Setelah Alloh ta’ala menciptakan Adam ‘alaihis salam kemudian Alloh memerintahkan seluruh penghuni langit untuk sujud menghormat kepada Nabi Adam ‘alaihis salam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an : وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُواْ لآدَمَ فَسَجَدُواْ إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ “Dan ( ingatlah ) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah ka- mu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan som-bong dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” ( Qs. Al-Baqoroh : 34 ) Dalam hal ini, Iblis bukan termasuk bangsa malaikat, tetapi berasal dari bang sa jin, sebagaimana tersebut dalam ayat yang lain : وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبّهِ “Dan ( ingatlah ) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah ka- mu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golo- ngan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” ( Qs. Al-Kahfi : 50 ) Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa dahulunya Iblis adalah bang sa jin yang paling ta’at beribadah. Oleh karena itu Iblis diangkat ke langit du-nia berkumpul bersama para malaikat. Namun karena kesombongannya Ib-lis dijatuhkan kembali ke derajat yang hina, bahkan paling hina. Yaitu ketika Iblis mendengar langsung perintah dari Alloh ta’ala untuk sujud menghor-mat kepada Nabi Adam ‘alaihis salam , maka ia dengan sombongnya berkata : لَمْ أَكُن لأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah mencip takannya dari tanah liat kering ( yang berasal ) dari lumpur hitam yang diberi bentuk” ( Qs. Al-Hijr : 33 ) Disebutkan pula dalam ayat yang lain : أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا “Apakah aku mesti bersujud kepada orang yang telah Engkau ciptakan dari tanah ?! ” ( Qs. Al-Isro’ : 61 ) Pembangkangan Iblis terhadap perintah Alloh menjadikan Iblis divonis kafir oleh Alloh ta’ala. Bahkan kesombongannya menyeret Iblis berani menan-tang Alloh, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an : قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَـذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إَلاَّ قَلِيلاً “Dia ( Iblis ) berkata: “Terangkanlah kepadaku, inikah orangnya yang Eng- kau muliakan atas diriku ? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh ke-padaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturu- nannya, kecuali sebahagian kecil .” ( Qs. Al-Isro’ : 62 ) Oleh karena itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam melarang kita dari bersi kap sombong : لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ “Tidak akan masuk syurga orang yang ada dalam hatinya kesombongan wa-laupun sebutir debu.” Ada seseorang bertanya : “ ( Bagaimana dengan ) orang yang menyukai pakaiannya bagus dan sandalnya juga bagus ?” Rosulul loh menjawab : “Sesungguhnya Alloh itu Maha indah dan menyukai keinda-han. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” ( HR. Muslim ) Inilah sifat sombong dan membangkang yang dilakukan Iblis, oleh karena itu Iblis dinamakan dengan Iblis sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shi-hah fil-Lughoh : أَبْلَسَ من رحمة الله، أي يَئِسَ . ومنه سمِّي إبْليسُ ، وكان اسمه عَزازِيل “Ablasa dari rahmat Alloh, yaitu putus asa. Darinya ia dinamai Iblis, dan na- ma aslinya adalah ‘Azazil.” Ada sebagian kaum shufi zindiq yang mengatakan bahwa Iblis tidak mau sujud kepada Adam karena iman dan tauhid Iblis yang mendorongnya untuk menolak sujud kepada selain Alloh, termasuk pula kepada Adam. Sam pai-sampai mereka dengan kezhalimannya mengatakan bahwa guru mereka adalah Iblis yang mereka sebut lebih bertauhid daripada para malaikat. Sesungguhnya perkataan tersebut muncul karena kebodohan mereka dalam memahami nash Al-Qur’an dan Al-Hadits. Mereka mengira bahwa Iblis menolak sujud kepada Adam karena Iblis hanya mau sujud kepada Alloh saja. Padahal alasan Iblis menolak sujud kepada Adam adalah karena merasa dirinya lebih tinggi daripada Adam ‘alaihis salam. Perhatikan firman Alloh berikut : قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ “Alloh berfirman: “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyom- bongkan diri ataukah kamu ( merasa ) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi ?” Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” ( Qs. Shod : 75 -76 ) Bukankah jelas bahwa Iblis menolak sujud kepada Adam karena kesombong annya, bukan karena Iblis hanya mau sujud kepada Alloh. Selain itu, sujud tidak selalu bermakna menyembah. Karena sujud bermakna menghormat termasuk ajaran agama sebelum Islam yang telah di-hapus oleh kedatangan Islam. Senagaimana tersebut dalam firman Alloh : وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّواْ لَهُ سُجَّدًا “Yusuf mengangkat kedua orang tuanya di atas singgasana, kemudian mere- ka ( saudara-saudaranya ) merebahkan diri sujud kepadanya.” ( Qs. Yusuf : 100 ) Mu’adz bin Jabal berkata kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam : “Aku mendatangi negeri Syam, maka aku melihat penduduknya bersujud kepada para petingginya dan kepada para ulamanya Maka engkau wahai Ro-sululloh adalah lebih layak untuk disujudi.” Maka Rosululloh menjawab : لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ النِّسَاءَ أَنْ يَسْجُدْنَ لأَزْوَاجِهِنَّ لِمَا جَعَلَ اللَّهُ لَهُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ الْحَقِّ “Seandainya aku boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, pasti aku telah menyuruh para wanita untuk sujud kepada suaminya karena Alloh telah menjadikan untuk mereka hak yang wajib ditunaikan oleh para is terinya.” ( HSR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah ) Apalagi dalam hal ini, Alloh langsung yang menyuruh Iblis bersujud kepada Adam. Oleh karena itu para ahli tafsir seperti Qotadah dan lain-lain berkata : “Ketaatannya kepada Alloh dan sujudnya kepada Adam, karena Alloh telah memuliakan Adam dengannya yaitu dengan sujudnya para malaikat kepada- nya.” Iblis divonis kafir selamanya oleh Alloh ta’ala hanya karena satu kesa lahan saja, yaitu enggan dan sombong dari sujud kepada Adam ‘alaihis salam ketika Alloh memerintahkannya, sementara makhluk yang lainnya masih di- berikan udzur ketika melakukan suatu kesalahan, hal ini karena Iblis mende-ngar sendiri dari Alloh dan yakin bahwa yang menyuruhnya adalah Alloh. Se dangkan selain Iblis terkadang membangkang dan sombong, tetapi masih di-beri tempo untuk bertaubat hingga saat nyawa dicabut, karena selain Iblis ti-dak mendengar perintah dan larangan langsung dari Alloh, melainkan mela-lui perantaraan wahyu yang disampaikan oleh para nabi dan rosul. Inilah se-babnya, kenapa Alloh tidak langsung memfirmankan wahyunya kepada se-tiap hamba-Nya, melainkan melalui para rosul utusan-Nya. Agar dengan de- mikian mereka memiliki tempo untuk bisa berfikir sehingga memiliki kesem patan untuk bertaubat sebelum tiba ajalnya. Demikian pula kenapa Alloh tidak menjadikan malaikat sebagai para nabi dan rosulnya, karena selain bukan dari jenis manusia, juga disebabkan bila mereka enggan menjawab da’wah para malaikat, niscaya adzab segera di timpakan kepada mereka. Sebagaimana ketika kejadian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berda’wah ke Thoif, beliau pun disambut dengan lemparan batu hingga berdarah-darah. Malaikat Jibril ‘alaihis salam menawarkan untuk membalas dengan akan melempar gunung kepada penduduk Thoif, namun dengan penuh kesabaran Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mencegahnya.
Sabtu, 17 Juli 2010
DENDAM IBLIS TERHADAP MANUSIA
Setelah pembangkangan yang dilakukan oleh Iblis terhadap perintah Alloh ta’ala untuk sujud kepada Adam ‘alaihis salam, Iblis pun divonis kafir dan diusir dari hadapan-Nya. Alloh ta’ala berfirman :
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ , قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِين
“Alloh berfirman ( kepada Iblis ) : “Apa yang menghalangimu dari bersujud ketika Aku telah memerintahkanmu ?” Iblis menjawab : “Aku lebih baik dari nya, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari ta-nah.” Alloh berfirman : “Turunlah darinya ! Tidak layak kamu berlaku som-bong di dalamnya, maka keluarlah sesungguhnya kamu termasuk dalam golo ngan orang-orang yang rendah !” ( Qs. Al-A’rof : 12 – 13 )
Lihatlah bagaimana sesatnya Iblis ketika melawan perintah Alloh dengan qi-yas ( analogi ) ! Meskipun qiyas diperbolehkan, bahkan merupakan salah sa-tu dasar hukum, namun qiyas akan batal bila tidak terpenuhi semua persyara tannya, apalagi bila bertentangan dengan nash dari Alloh ta’ala. Qiyas yang demikian adalah dosa besar, sebagaimana kata Imam Abu Hanifah rohimahul- loh : “Kencing di masjid lebih baik dari pada sebagian qiyas.”
Berkata Imam Al-Hafizh Al-Khothib Al-Baghdadi menjelaskan perkataan Imam Abu Hanifah di atas : “Sesungguhnya Abu Hanifah telah berkata de-ngan suatu perkataan yang mencela qiyas, yaitu qiyas yang menyelisihi nash. Wallohu a’lam.”
Demikian pula qiyas yang dilakukan Iblis adalah qiyas yang batil karena me-nyelisihi, bahkan menentang perintah Alloh ta’ala.
Berkata Al-Hasan Al-Bashri : “Iblis telah melakukan qiyas, dan dia itulah orang pertama yang melakukan qiyas.”
Berkata Muhammad bin Sirin : “Orang pertama yang melakukan qiyas ada-lah Iblis. Matahari dan bulan pun disembah juga karena qiyas.”
Dalam ayat yang lain disebutkan :
قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّين
“Alloh berfirman kepada Iblis : “Keluarlah darinya, sesungguhnya kamu itu terkutuk, kamu pasti tertimpa laknat sampai hari qiyamat.”
( Qs. Al-Hijr : 34 – 35 )
Ketika diusir, Iblis meminta tangguh, sebagaimana tersebut dalam Qur’an :
قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ , قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ , قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ , قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لأَمْلأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِين
“Iblis berkata : “Berilah aku tangguh !” Alloh menjawab : “Sesungguhnya ka mu termasuk orang yang diberi tangguh.” Iblis berkata : “Karena Engkau te-lah memvonis aku sesat, pasti aku akan halangi mereka ( yakni manusia ) da- ri jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari depan, dari belakang, dari sebelah kanan dan dari sebelah kirinya, lalu Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka orang-orang yang bersyukur.” Alloh berfirman : “Keluarlah darinya dalam keadaan terhina dan terusir ! Ba-rangsiapa yang mengikutimu di antara mereka, pasti Aku penuhi neraka Ja-hannam dengan kalian semuanya.” ( Qs. Al-A’rof : 14 – 18 )
قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ , قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ , قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِين
“Iblis berkata : “Tuhanku, berilah aku tangguh hingga hari mereka dibangkit kan !” Alloh berfirman : “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh hingga waktu yang telah ditentukan.” Iblis berkata : “Tuhan-ku karena Engkau telah memvonis aku sesat, pasti aku akan menghiasi ( ke-jelakan ) untuk mereka di bumi dan pasti aku akan sesatkan mereka semua-nya, kecuali hamba-hamba-Mu di antara mereka yang ikhlas.”
( Qs. Al-Hijr : 36 – 40 )
قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلاَّ قَلِيلاً , قَالَ اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَوْفُورًا وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الأَمْوَالِ وَالأَوْلادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُورًا إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلاً
“Iblis berkata : “Apakah Engkau tidak melihat kepada orang ini yang telah Engkau muliakan di atasku ( yaitu Adam ), seandainya Engkau tangguhkan Aku hingga hari qiyamat, pasti aku akan sesatkan keturunannya kecuali sedi-kit.” Alloh berfirman : “Pergilah, barangsiapa yang mengikutimu di antara mereka, maka neraka Jahannam adalah balasan yang cukup bagi kalian ! Ha-sunglah siapa yang kamu sanggup dengan suaramu, kerahkanlah pasukan berkuda dan pasukan jalan kakimu, bersekutulah dengan mereka dalam uru- san harta dan anak, serta berikanlah kepada mereka janji ! Sesungguhnya Syetan tidaklah menjanjikan kepada mereka kecuali sekedar tipuan. Sesung-guhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan atasmu terhadap mereka, dan cukuplah Alloh sebagai penjaga.” ( Qs. Al-Isro’ : 62 – 65 )
Perhatikanlah, bagaimana dendam Iblis kepada Adam dan anak-cucunya !
Berkata Ibnu Qudamah AL-Maqdisi rohimahulloh : “Iblis pernah berkata ke-pada Nabi Nuh ‘alaihis salam : “Waspadalah kamu dari dengki, karena dialah yang menjadikanku seperti ini.”
Beliau berkata : “Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bila ditahan karena ti-dak mampu melampiaskannya ketika itu, ia akan kembali ke dalam batin, ke- mudian tertahan, lalu berubah menjadi dendam. Tandanya adalah selalu membenci orang tersebut, terasa memberatkannya dan tidak suka terhadap-nya. Maka dendam adalah buah dari amarah, sedangkan dengki adalah hasil dari dendam.”
Inilah yang terjadi pada Iblis, yaitu : marah, dendam dan dengki kepada Adam ‘alaihis salam , sehingga dia meminta tempo kepada Alloh agar dipan-jangkan umurnya hingga hari qiyamat, dengan tujuan hendak menyesatkan anak cucu Adam sebanyak-banyaknya Dan Iblis memang di antara makhluk Alloh yang diberi tempo, yaitu tidak akan mati hingga tiba hari qiyamat. Ada pun jin-jin lainnya, tidak termasuk yang diberi tempo ini. Mereka sama seper ti makhluk hidup lainnya yang pasti akan merasakan mati. Hanya saja umur bangsa jin rata-rata ribuan tahun.
Dalam kisah ini ada beberapa hikmah yang bisa kita petik, di antara-nya, yaitu :
1. Iblis termasuk orang yang mengakui bahwa Alloh adalah Tuhannya, namun pengakuannya itu tidak lantas menjadikannya bebas dari vo-nis kafir dan terla’nat. Karena pengakuan demikian harus dibuktikan dengan mematuhi seluruh perintah Alloh dan menjauhi larangannya. Dengan demikian maka Tauhid Rububiyyah atau pengakuan keesaan Tuhan tidak akan ada artinya tanpa Tauhid Uluhiyyah atau beribadah hanya kepada Alloh semata.
2. Syetan, yaitu Iblis dan bala tentaranya akan terus bekerja keras siang maupun malam untuk menyesatkan manusia dengan berbagai jalan.
3. Di antara cara-cara syetan dalam menyesatkan manusia adalah de-ngan menghiasi setiap keburukan, sehingga tampak bagus oleh ma-nusia.
4. Yang bisa selamat dari gangguan syetan adalah orang-orang yang Alloh jaga dengan sifat ikhlas dalam beribadah kepada-Nya.
5. Dosa dan kemaksiatan dapat menjadikan makhluk yang mulia beru-bah menjadi hina dan nista. Sebagaimana Iblis yang semula di tem-pat yang tinggi bersama malaikat, kemudian diusir dengan dihinakan karena pelanggaran, dosa dan maksiatnya.
6. Qiyas adalah sumber hukum yang hanya berlaku ketika tidak didapa-ti adanya dalil dalam suatu permasalahan. Namun qiyas akan batal se cara otomatis ketika suatu permasalahan telah memiliki dalil yang je-las dan shohih.
7. Dendam, amarah dan dengki adalah sifat yang tercela yang wajib un-tuk dijauhi.
ADAM DAN HAWA DIUSIR DARI SYURGA
Setelah melakukan pelanggaran dengan memakan se-suatu dari pohon terlarang, maka terbukalah pakaian Adam dan Hawa. Kemudian Alloh memanggil keduanya :
وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَآنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Dan Kami memanggil keduanya : “Bukankah Aku telah melarang ka- lian berdua dari pohon itu dan Aku telah katakan kepada kalian berdua bahwa Syetan adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua ?!”
( Qs. Al-A’rof : 22 )
Ayat ini menunjukkan bahwa Adam dan Hawa telah diperdaya oleh Ib-lis sehingga melupakan larangan Alloh. Padahal Alloh telah memperi-ngatkan Adam dan Hawa dari kemungkinan tersebut. Inilah bukti keli- haian Iblis dan bala tentaranya dalam menyesatkan Adam dan anak cucunya. Disebutkan dalam ayat yang lainnya :
فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُواْ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ
“Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula, dan Kami berfirman: “Turunlah kalian semua ! sebagian ka- lian menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kalian ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”
( Qs. Al-Baqoroh : 36 )
Demikian, akhirnya Alloh mengeluarkan Adam, Hawa dan Iblis dari syurga dan sejak saat itu bangsa jin dan manusia mesti tinggal di bumi hingga batas usia yang ditentukan.
Ada pun tentang kesalahan yang dilakukan Adam dan Hawa sesung- guhnya telah diampuni, karena mereka seketika itu lantas menyesal, sebagai- mana firman Alloh ta’ala :
ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى
“Kemudian Tuhannya memilihnya, menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.” ( Qs. Thoha : 122 )
Dalam pelanggaran ini Adam dan Hawa ‘alaihimas salam tidak lantas di-vonis kafir, karena mereka berdua segera menyesal dan bertaubat. Se-dangkan Iblis yang membangkang divonis kafir karena tidak pernah me nyesali perbua tannya, bahkan menganggap sah tindakan pembangkang annya. Dalam kejadian ini terdapat dalil bahwa perbuatan dosa dan maksiat tidak menjadikan pelakunya kafir, selama pelakunya tidak me-nganggap boleh ( halal ) perbuatan dosa dan maksiat itu. Dalam ayat yang lain disebutkan :
فَتَلَقَّى آَدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat, kemudian Alloh meneri ma taubatnya, karena Dia Maha Penerima Taubat lagi Maha Pemberi Rahmat.” ( Qs. Al-Baqoroh : 37 )
Adapun kalimat taubat yang diucapkan oleh Adam dan Hawa adalah :
قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Mereka berdua berdo’a : “Wahai Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri, bila Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, niscaya kami pasti termasuk orang-orang yang merugi.”
( Qs. Al-A’rof : 23 )
Kemudian Adam dan Hawa pun diperintahkan untuk turun ke bumi, se perti difirmankan dalam Al-Qur’an :
قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ
وَ لا يَشْقَى وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Alloh berfirman : “Turunlah kalian darinya, sebagian kalian adalah mu suh bagi sebagian yang lain. Bila datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan se- sat dan tidak akan celaka. Namun barangsiapa yang berpaling dari peri-ngatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan himpun dia pada hari qiyamat dalam keadaan buta.”
( Qs. Thoha : 123 – 124 )
Demikian, Alloh telah membekali Adam dan Hawa dengan petunjuk-Nya agar mereka dan keturunannya dapat mengisi bumi dengan tauhid dan keta’atan kepada Alloh.
Adam dan Hawa diturunkan ke bumi bertepatan dengan hari Jum’at, sebagaimana sabda Rosululloh :
خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ
“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu Adam dimasukkan ke dalam syurga, pada hari itu Adam dikeluarkan darinya, dan tidak akan terjadi hari Qiyamat kecuali pada hari Jum’at.”
( HR. Ahmad, Muslim, At-Tirmidzi dan lain-lain )
Dan diturunkannya Adam ke bumi tidak semata-mata karena kesalahan nya, tetapi juga karena memang tujuan penciptaan manusia adalah un- tuk menjadi kholifah di muka bumi.
Suatu ketika Nabi Musa ‘alaihis salam minta dipertemukan de-ngan Adam ‘alaihis salam kemudian terjadilah dialog antara keduanya :
حَاجَّ مُوسَى آدَمَ فَقَالَ لَهُ أَنْتَ الَّذِي أَخْرَجْتَ النَّاسَ مِنْ الْجَنَّةِ بِذَنْبِكَ وَأَشْقَيْتَهُمْ قَالَ قَالَ آدَمُ يَا مُوسَى أَنْتَ الَّذِي اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِرِسَالَتِهِ وَبِكَلامِهِ أَتَلُومُنِي عَلَى أَمْرٍ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي أَوْ قَدَّرَهُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى
“Musa mendebat Adam, dia berkata : “Engkau adalah orang yang telah me- ngeluarkan manusia dari syurga karena dosamu dan telah mencelakakan me-reka !” Adam menjawab : “Hai Musa, engkau adalah orang yang Alloh telah memilihmu dengan diberikan risalah dan diajak bicara langsung oleh-Nya, apakah kamu hendak mencelaku karena perkara yang telah Alloh tetapkan sebelum Dia menciptakanku, atau yang Alloh taqdirkan sebelum Dia men- ciptakanku ?” Rosululloh shollallo hu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Adam me-matahkan hujjah Musa.” ( HR. Al-Bukhori )
Dalam peristiwa ini terdapat satu dalil bahwa tidak ada dosa warisan sebagai mana diyakini oleh kaum Nashrani, dan tidak ada pula hukum karma se-bagaimana ini adalah keyakinan orang-orang musyrikin Hindu dan Bu- dha, karena setiap jiwa hanya akan menanggung hasil usahanya sendiri, seba gaimana firman Alloh ta’ala :
لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
“Alloh tidak pernah memberikan beban kepada suatu jiwa pun kecuali menurut kemampuannya, hanya baginya pahala apa dia usahakan, dan hanya atasnya dosa apa yang dia upayakan.” ( Qs. Al-Baqoroh : 286 )
وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلا مَا سَعَى
“Tidaklah manusia mendapatkan kecuali apa yang ia usahakan.”
( Qs. An-Najm : 39 )
ALLOH Between I and We
"Sebenarnya ada beberapa orang yang memiliki pertanyaan" iF itu adalah Alloh adalah satu, mengapa menggunakan pronounWe pribadi, Dalam Al-Qur'an Suci untuk menyebut dirinya. Tentang pernyataan ini, kita akan menjawabnya: قل هو الله أحد
"Sebenarnya Aloh SWT adalah satu" berarti Alloh adalah salah satu tidak banyak!
Sekarang penggunaan kata ganti pribadi Kami untuk panggilan tentang Alloh dalam Al-Qur'an Suci, dalam banyak ayat, ini bukan Alloh adalah many.Not! Karena dalam sastra bahasa Arab dalam kebenaran menggunakan pronounWe pribadi, untuk seseorang memanggil. Jika ini adalah tujuan untuk memuliakan (memuji) tentang dirinya. Kecuali itu, ketika Alloh menggunakan kata ganti pribadi Kami, Sarana Alloh telah dilakukan oleh malaikat utusan (malaikat) atau melalui proses yang terjadi di ALAM SEMESTA. Sebagai Alloh mengatakan: إنا أنزلناه في ليلة القدر "Sebenarnya kami telah turun Al-Qur'an di tengah dari" malam Qodar, berarti bahwa: Alloh turun Al-Qur'an dari atas langit tidak langsung, tetapi dengan Malaikat Jibril utusan.Agar Alloh menggunakan personalpronoun "Kami". . Tetapi jika Alloh telah dilakukan oleh sendiri, sehingga Alloh menggunakan kata ganti pribadi "saya".
Sebagai Alloh mengatakan: قال يا إبليس ما منعك أن تسجد لما خلقت بيدي "Alloh berkata kepada iblis / setan: Hai iblis, apa yang Anda mencegah dari merendahkan diri kepada Adam bahwa saya buat dengan kedua tanganku. Perhatian, harap dalam ayat ini Alloh menggunakan "kata ganti pribadi 'saya". Mengapa? Karena Adam AS diciptakan langsung oleh Alloh, tidak melalui oleh utusan atau proses. Perhatian harap dalam ayat berikut, Alloh mengatakan:
وما أرسلنا من قبلك من رسول إلا نوحي إليه أنه لا إله إلا أنا فاعبدون
"Dan notWe mengirim rasul sebelum kamu, kecuali Kami wahyukan dalam visi kepadanya bahwa Tidak ada orang yang harus menyembah kecuali" Aku ", Jadi, Ibadah saya"
Dalam ayat ini, dalam ayat awal, Alloh menggunakan kata ganti personal "Kami" Kenapa? Karena Bila visi Alloh turun ke Rosul / nabi, Alloh mengirim Angel, sehingga Alloh menggunakan personalpronoun "Kami".Dalam ayat .. Tapi ketika kita berbicara tentang dzat Alloh, dalam ayat terakhir, Allah SWT menggunakan kata ganti pribadi "saya". Karena Alloh adalah satu, hanya satu. Pada awal ayat menggunakan kata ganti pribadi Alloh "Kami". Dan di akhir ayat Alloh menggunakan "saya". Hal ini menjadi argumen bahwa Alloh hanya satu, tidak mungkin. Sementara menggunakan "Kami" karena Alloh telah dilakukan oleh melalui rocess p [yang terjadi di alam semesta atau melalui utusan Allah.
Atrium Myxoma

Ilustrasi: repro. londoncardiac.ca
Deskripsi:
Atrium myxoma adalah tumor jinak di kiri atas atau sisi kanan jantung. Tumbuh di dinding (septum atrium) yang memisahkan dua sisi hati. Atrium Myxzoma merupakan tumor hati. Tumor sangat jarang terjadi, biasanya dimulai di septum antara kedua ventrikel jantung, dengan 80% dari tumor yang tumbuh ke dalam atrium kiri.
Meskipun Atrium myxoma merupakan tumor jinak, tapi tumor ini dapat menjadi serius bila tumor embolize menyumbat pembuluh darah dan menyebabkan gangguan aliran darah. Jika tumor embolizes menyumbat suplai darah ke otak maka dapat menyebabkan stroke. Myxoma lebih sering terjadi pada wanita. Sekitar 10% dari penderita Myxoma diturunkan melalui keluarga (warisan).�
Gejala:
- Nyeri dada
- Palpitasi
- Sesak napas
- Edema (pembengkakan kaki)
- Pingsan
- Batuk
- Demam
- Kehilangan energi
- Penglihatan berkurang
- Kebingungan
Perawatan:
Umumnya, upaya perawatan dilakukan dengan pengangkatan tumor.
Sumber: disarikan dari berbagai sumber.
Actinomycosis

Foto: crop history.amedd.army
Deskripsi
Actinomycosis adalah infeksi kronis, biasanya dari wajah dan leher, yang menghasilkan abses dan penirisan sinus terbuka. Actinomycosis biasanya disebabkan oleh bakteri anaerobik (bakteri yang hidup tanpa oksigen) yang disebut Actinomyces israelii. Bakteri ini umum menginfeksi dan biasanya nonpathogenic (bukan penyebab penyakit) di hidung dan tenggorokan.
Gejala
* Pembengkakan atau keras, merah-ke-benjolan ungu kemerahan pada wajah atau leher bagian atas (lihat leher benjolan)
* Demam
* Berat badan
* Rasa sakit
Perawatan
Pengobatan untuk actinomycosis adalah jangka panjang, dengan 1-2 bulan penisilin yang diberikan melalui vena, diikuti oleh 6-12 bulan penisilin yang diambil oleh mulut. Obat lain juga telah efektif.
Adhesi

Ilustrasi: repro
Deskripsi
Adhesi adalah pita fibrosa yang membentuk jaringan scarlike antara dua permukaan di dalam tubuh. Pembedahan perut, endometriosis, serangan usus buntu, atau penyakit radang panggul (PID) juga dapat menyebabkan adhesi intraperitoneal. Tergantung pada jaringan yang terkena, adhesi dapat menyebabkan berbagai gangguan. Di mata, adhesi iris ke lensa dapat menyebabkan glaukoma. Dalam usus, adhesi dapat menyebabkan obstruksi usus baik sebagian atau seluruhnya. Sedangkan Adhesi pelvis dapat menyebabkan kemandulan dan masalah-masalah reproduksi.
Gejala
Gejala tergantung pada jaringan yang terserang.
* Glaukoma:
- kehilangan penglihatan
- sakit mata
- mata merah
- pembengkakan mata
- mual dan muntah
* Obstruksi Usus:
- kembung
- mual
- muntah
* Kemandulan:
- sulit mendapatkan keturunan meskipun aktivitas seksual aktif
Perawatan
Pembedahan dapat dilakukan untuk memisahkan adhesi. Hal ini sering membantu pergerakan normal organ dan untuk mengurangi gejala yang disebabkan oleh adhesi
Atresia Bilier

Foto: detik.com
Deskripsi
Atresia Bilier adalah suatu kondisi langka pada bayi yang baru lahir di mana saluran empedu antara hati dan usus kecil tertutup atau tidak ada sama sekali. Jika tidak ditangani dengan segera, kondisi tersebut mengarah ke kegagalan hati.
Penyebab kondisi tersebut tidak diketahui. Beberapa anak yang mengalami atresia bilier dapat terjadi karena saluran empedu tidak terbentuk dengan baik selama kehamilan. Untuk anak-anak lain dengan atresia empedu, saluran empedu kemungkinan rusak oleh sistem kekebalan tubuh sebagai respons terhadap infeksi virus yang menyerang setelah lahir.
Gejala
- penyakit kuning
- urin pekat
- tinja pekat
Perawatan
Atresia bilier tidak dapat diobati dengan obat-obatan. Meski demikian ada tindakan medis yang dapat dilakukan, yakni membuat saluran terbuka sehingga dapat mengalirkan empedu dari hati. Tindakan ini memerlukan ahli bedah yang memang kompeten dalam menangani masalah tersebut.
Acne Rosacea
Acne Rosacea

Foto: crop.ist.
Deskripsi:
Acne Rosacea merupakan kondisi kronis, yakni peradangan jangka panjang berupa, iritasi, kemerahan, pembengkakan, hyperplasia (penebalan kulit), dan jerawat yang terjadi di pipi, kelopak mata, hidung, dagu, dan dahi. Belum diketahui secara pasti penyebab dari kondisi ini, namun perubahan pada kulit melibatkan pelebaran atau pembesaran pembuluh darah kecil di bawah permukaan kulit. Gejala: Gejala-gejala yang timbul antara lain: * Ruam merah - area merah bernoda di daerah wajah yang terkena
* Kesemutan atau sensasi tersengat di daerah wajah yang terkena
* Pembuluh darah melebar dapat dilihat di bawah kulit wajah (telangiectasis)
* Hiperplasia pada kulit hidung
* Muncul benjolan (papula) berisi nanah
Perawatan:
Ada beberapa upaya perawatan untuk kondisi ini, antara lain:
* Mengkonsumsi makanan kaya vitamin dan diet mineral
* Berhenti mengkonsumsi alkohol atau rokok
* Menggunakan antibiotika seperti tetrasiklin
* Terapi laser
* Konsultasi ke Dermatolog (dokter kulit)
Argyria

Deskripsi:
Agyria adalah noda hitam pada kulit akibat penggunaan obat komestik yang mengandung garam perak berlebihan atau karena aktivitas yang berhubungan dengan perak. Argyria sering terjadi pada para pekerja yang bekerja di pemurnian perak atau pertambangan perak. Perak terebut terkakumalsi di dalam tubuh sehingga warna kulit penderita menjadi kebiru-biruan atau abu-abu. Jika ditemukan gejala, disarankan untuk segera mendapat perawatan sebab dapat menimbulkan komplikasi penyakit yang lebih parah. Komplikasi tersebut antara lain degenerasi lemak, brokitis akut, atau gangguan penglihatan.
Gejala:
Warna kebiru-biruan pada kulit.
Perawatan:
Penderita argyria juga disarankan untuk menggunakan tabir surya. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan tidak menggunakan produk berbahan perak.
Langganan:
Postingan (Atom)
