Selasa, 13 Juli 2010

CINTA SEJATI

Banyak orang berkata tentang cinta, bahkan mengupas seputar misteri cinta, tetapi mereka tidak mampu memberikan pengertian yang hakiki tentang makna cinta yang sebenarnya. Karena istilah “cinta” yang banyak difahami oleh orang-orang awam adalah “nafsu untuk bisa memiliki apa yang diinginkan” yang hanya didasarkan atas penilaian fisik atau duniawi semata. Sehingga istilah “cinta” yang demikian di dalam Al-Qur’an dan Hadits sering disebut dengan istilah syahwat. Cinta yang demikian sangat mudah dimanipulasi oleh syetan, sehingga Alloh subhanahu wa ta’ala memperingatkan hal ini dalam Al-Qur’an :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ

“Dijadikan indah pada ( pandangan ) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkannya, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Alloh-lah tempat kembali yang baik ( yaitu surga ).” ( Qs. Ali ‘Imron : 14 )

Sedangkan rasa cinta yang benar adalah rasa suka yang mengikuti keridhoan Alloh ta’ala sebagaimana firman Alloh ‘azza wa jalla :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh yang mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa ( pada hari kiamat ), bahwa kekuatan itu kepunyaan Alloh semuanya, dan bahwa Alloh amat berat siksaan-Nya ( niscaya mereka menyesal ).” ( Qs Al-Baqoroh : 165 )

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga perkara yang barangsiapa ada padanya ketiga perkara tersebut niscaya dia akan mendapati manisnya iman : Alloh dan Rosul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang yang dia tidak mencintainya kecuali karena Alloh, dan membenci kembali kepada kekafiran sebagaimana dia membenci dilempar ke dalam api neraka.” ( HR. Al-Bukhori dan Muslim )

Sebagai contohnya adalah rasa suka atau cinta ‘Aisyah kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tumbuh seiring dengan tumbuhnya rasa iman di dalam dirinya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Karena seperti yang kita ketahui bahwa ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha dinikahi oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika dia masih berusia 6 tahun – walaupun baru tinggal serumah ketika sudah berusia 9 tahun - yang jelas pada usia semuda itu belum mengerti apa itu cinta. Namun pertambahan ilmunya telah mengantarkannya kepada tumbuhnya perasaan cinta atau suka yang selaras dengan apa yang dikehendaki oleh Alloh ta’ala kepada Rosul-Nya. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara : karena harta bendanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang beragama, maka kamu akan beruntung.” ( HR. Al-Bukhori dan Muslim )

Demikian pula dengan wanita memilih pasangannya berdasarkan salah satu dari keempat alasan di atas, yakni : paras wajah, kekayaan, jabatan atau agama. Rasa cinta yang benar adalah rasa cinta yang mengikuti kecintaannya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Oleh karena itu Alloh ta’ala berfirman :

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji ( pula ), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik ( pula ).” ( Qs. An-Nur : 26 )

Adapun perasaan cinta yang difahami oleh orang-orang awam sebenarnya sekedar cinta dalam pengertiansyahwat, sehingga sering dimanfaatkan syetan untuk menyesatkan manusia. Banyak wanita dan laki-laki yang keluar dari agama Islam atau murtad karena lebih memilih “cinta”-nya bersama pasangannya yang non muslim. Banyak juga kaum laki-laki atau wanita yang menyerahkan kehormatannya kepada pasangan - di luar nikah - dengan mengatasnamakan cinta. Dan masih banyak akibat buruk dari “cinta” yang salah ini.

Kisah pernikahan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan ‘Aisyah yang ketika dinikahi belum mengerti arti cinta menunjukkan bahwa cinta yang sebenarnya adalah rasa suka yang didasarkan kepada mencari keridhoan Alloh semata, tanpa terpengaruh oleh godaan paras wajah, kekayaan atau pun jabatan karena ketiga perkara ini adalah fana’ atau pasti akan binasa, tidak akan kekal abadi. Hanya cinta kepada Alloh yang akan bisa kekal abadi hingga perjumpaan kita dengan Alloh ta’ala.

Sehingga CINTA KEPADA ALLOH seharusnya yang menjadi CINTA PERTAMA, CINTA UTAMA dan CINTA SEJATI seorang muslim yang benar-benar beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya. Mencintai apa pun dan siapa pun hanya karena Alloh dan membenci apa pun dan siapa pun juga hanya karena Alloh. Inilah gambaran seorang mu’min sejati. Karena cinta pasti berujung kepada penghambaan atau perbudakan, sehingga siapa pun yang mencinta tidak karena Alloh niscaya dia akan diperbudak oleh perasaan cintanya itu. Namun bila dia mencinta karena Alloh niscaya dia hanya akan menjadi hamba Alloh.

Namun ada sebagian kalangan shufi yang berlebihan sehingga keliru dalam memahami pengertian CINTA KEPADA ALLOH. Sampai ada di antara mereka yang mengatakan : “Ma’afkan aku wahai Nabi Muhammad, karena hatiku telah dipenuhi cinta kepada Alloh sehingga tidak ada ruang untuk mencintai siapa pun selain Alloh. Dan wahai Iblis, engkau memang terlaknat, tetapi hatiku telah dipenuhi oleh cinta kepada Alloh sehingga tidak ada tempat untuk membenci siapa pun.” Ini adalah ucapan sesat dan kufur karena salah dalam memahami makna cinta kepada Alloh ta’ala. Karena konsekuensi dari sebuah cinta adalah mencintai semua apa yang dicintai oleh sang kekasih dan membenci semua apa yang dibenci oleh sang kekasih. Termasuk pula konsekuensi dari cinta kepada Alloh adalah mencintai semua yang Alloh cintai, membenci semua yang Alloh benci, mematuhi semua yang Alloh perintahkan dan meninggalkan semua yang Alloh larang.

Kesalahan dari sebagian penganut shufi lainnya adalah beribadah kepada Alloh hanya dengan dasar cinta kepada Alloh tanpa disertai roja’ atau berharap syurga dan tanpa khouf atau takut dari api neraka. Padahal syurga adalah perwujudan balasan cinta Alloh kepada hamba-hamba-Nya sedangkan neraka adalah perwujudan balasan kemarahan Alloh atas hamba-hamba-Nya. Padahal termasuk konsekuensi dari cinta adalah menginginkan atau mengharap perwujudan cinta dari sang kekasih dan mengkhawatirkan amarah dari sang kekasih.

PEMBAGIAN HADITS NABI SAW

Hadits Nabi saw dilihat dari sanadnya terbagi menjadi dua, yaitu Hadits Mutawatir ( المتواتر ) dan Hadits Ahad ( الآحاد ).

HADITS MUTAWATIR

Hadits Mutawatir yaitu hadits inderawi yang diriwayatkan oleh orang banyak yang mustahil menurut adat terjadinya kesepakatan dusta di antara mereka. Hadits Mutawatir terbagi dua, yaitu :

  1. Lafzhi ( اللفظي ), yaitu hadits yang para perowinya sepakat dengan suatu lafazh, contoh :

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka hendaklah dia mengambil tempat duduknya dari api neraka.”

Hadits ini diriwayatkan oleh lebih dari 100 Shahabat ra dan memiliki ratusan sanad.

  1. Ma’nawi ( المعنوي ), yaitu hadits yang disepakati maknanya, tetapi para perowi meriwayatkan dalam lafazh dan kejadian yang berbeda-beda. Contoh : Hadits tentang mengusap khuff ( sepatu bot ).

Hadits Mutawatir memberikan faedah ilmu dhoruri ( الضروري ) yaitu ilmu yang pasti ( yakin ) dan tidak boleh diingkari kebenarannya.

HADITS AHAD

Hadits Ahad yaitu hadits yang jumlah perowinya tidak mencapai derajat mutawatir. Hadits Ahad dilihat dari jumlah sanadnya terbagi menjadi tiga, yaitu :

  1. Masyhur ( المشهور ), yaitu hadits yang memiliki tiga buah jalan ( sanad ) atau lebih, contoh :

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin merasa aman dari ( gangguan ) lisan dan tangannya.”

( HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai dll )

Hadits ini diriwayatkan dari Shahabat ‘Abdulloh bin ‘Amr, Jabir bin ‘Abdillah, Abu Huroiroh, Abu Sa’id Al-Khudri, dan lain-lain.

  1. ‘Aziz ( العزيز ), yaitu hadits yang memiliki dua buah jalan ( sanad ), contoh :

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَ وَلَدِهِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sehingga dia menjadikan aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya dan manusia seluruhnya.”

( HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, An-Nasai dan Ibnu Majah )

Hadits ini diriwayatkan dari Shahabat Anas bin Malik dan Abu Huroiroh.

  1. Ghorib ( الغريب ) disebut pula Fard ( الفرد ), yaitu hadits yang hanya memiliki satu buah jalan ( sanad ), contoh :

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Amalan-amalan itu hanyalah bergantung kepada niat dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang dia niatkan.”

( HR Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dll )

Hadits ini hanya diriwayatkan dari satu jalan, yaitu dari Shahabat ‘Umar bin Al-Khoththob ra.

Hadits Ahad memberikan faedah ilmu nazhori ( النظري ), yaitu keharusan untuk diteliti kebenarannya. Karena itu maka masing-masing hadits Ahad di atas terbagi lagi menjadi tiga, yaitu :

  1. Shohih ( الصحيح ), yaitu hadits yang telah dapat dibuktikan secara sah kebenarannya berasal dari Nabi saw.
  2. Hasan ( الحسن ), yaitu hadits yang telah dapat dibuktikan berdasarkan sangkaan kuat terbebas dari kesalahan dalam riwayat.
  3. Dho’if ( الضعيف ), yaitu hadits yang diduga palsu atau diduga terjadi kesalahan dalam riwayat.

Dan bilamana suatu hadits telah dapat dibuktikan Shohih atau Hasan, maka wajib hukumnya menerimanya. Sedang hadits yang Dho’if wajib untuk ditinggalkan.

AKHLAK KEPADA GURU DAN TEMAN

AKHLAQ KEPADA GURU

Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi Alloh ‘azza wa jalla. Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama.

Di antara akhlaq kepada guru adalah memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki guru, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan tidak menyayangi orang yang lebih muda.” ( HSR. Ahmad dan At-Tirmidzi )

Di antara akhlaq kepada guru adalah mendatangi tempat belajar dengan ikhlas dan penuh semangat, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu padanya, Alloh mudahkan baginya dengannya jalan menuju syurga.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )

Di antara akhlaq kepada guru adalah datang ke tempat belajar dengan penampilan yang rapi, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Alloh itu indah dan suka kepada keindahan.”

( HR. Ahmad, Muslim dan Al-Hakim )

Di antara akhlaq kepada guru yaitu diam memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan, sebagaimana hadits Abu Sa’id Al-Khudri ra :

وَ سَكَتَ النَّاسُ كَأَنَّ عَلَى رُءُوسِهِمْ الطَّيْرَ

“Orang-orang pun diam seakan-akan ada burung di atas kepala mereka.” ( HR. Al-Bukhori )

Imam Sufyan Ats-Tsauri rohimahulloh berkata : “Bila kamu melihat ada anak muda yang bercakap-cakap padahal sang guru sedang menyampaikan ilmu, maka berputus-asalah dari kebaikannya, karena dia sedikit rasa malunya.”

( AR. Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ilas-Sunan )

Di antara akhlaq kepada guru adalah bertanya kepada guru bila ada sesuatu yang belum dia mengerti dengan cara baik. Alloh berfirman :

فَاسْأَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ

“Bertanyalah kepada ahli dzikr ( yakni para ulama ) bila kamu tidak tahu.”

( Qs. An-Nahl : 43 dan Al-Anbiya’ : 7 )

Rosululloh saw bersabda :

أَلاَ سَأَلُوْا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ

“Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu ? Bukankah obat dari ketidaktahuan adalah bertanya ?” ( HSR. Abu Dawud )

Dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada faedahnya, sekedar mengolok-olok atau yang dilatarbelakangi oleh niat yang buruk, oleh karena itu Alloh berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَسْأَلُوْا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan sesuatu yang bila dijawab niscaya akan menyusahkan kalian.” ( Qs. Al-Maidah : 101 )

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِيْنَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

“Sesungguhnya orang muslim yang paling besar dosanya adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang tidak diharamkan, lantas menjadi diharamkan lantaran pertanyaannya itu.” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori dan Muslim )

Ketika bertanya mestinya dilakukan dengan cara dan bahasa yang bagus.

Berkata Imam Maimun bin Mihron : “Pertanyaan yang bagus menunjukkan separuh dari kefahaman.” ( AR. Al-Khothib Al-Baghdadi dalam Al-Jami’ )

Di antara akhlaq kepada guru adalah menegur guru bila melakukan kesalahan dengan cara yang penuh hormat, sebagaimana sabda Rosululloh :

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ , قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ لِلَّهِ وَ لِكِتَابِهِ وَ لِرَسُولِهِ وَ لأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَ عَامَّتِهِمْ

“Agama adalah nasihat.” Kami ( Shahabat ) bertanya : “Untuk siapa ?” Beliau menjawab : “Untuk menta’ati Alloh, melaksanakan Kitab-Nya, mengikuti Rosul-Nya untuk para pemimpin kaum muslimin dan untuk orang-orang umum.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dll )

AKHLAQ KEPADA TEMAN

Di antara akhlaq kepada teman atau kawan, baik teman di sekolah, di lingkungan maupun di tempat-tempat yang lain adalah menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan tidak menyayangi orang yang lebih muda.” ( HSR. Ahmad dan At-Tirmidzi )

Di antara akhlaq kepada teman adalah bersikap ramah kepadanya, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam :

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyumanmu kepada wajah saudaramu terhitung shodaqoh bagimu.” ( HSR. At-Tirmidzi )

Rosululloh saw bersabda :

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَ لَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Jangan kamu remehkan perbuatan baik walaupun sedikit, sekalipun kamu menemui saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” ( HR. Ahmad dan Muslim )

Dalam hadits yang lain beliau bersabda :

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ : رَدُّ السَّلاَمِ وَ عِيَادَةُ الْمَرِيْضِ وَ اتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ

وَ إِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَ تَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ

“Hak seorang muslim atas muslim yang lainnya ada lima, yaitu : “Menjawab salam, menengoknya orang yang sakit, mengiringi jenazahnya, mendatangi undangannya, dan mendoakan “yarhamukalloh” untuk yang bersin.” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim dan Ibnu Majah )

Di antara akhlaq kepada teman adalah saling tolong-menolong dalam kebaikan, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

وَ تَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَ التَّقْوَى وَ لاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى الإِثْمِ وَ الْعُدْوَانِ

“Saling tolong-menolonglah di dalam kebajikan dan taqwa, dan janganlah saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” ( Qs. Al-Maidah : 2 )

Rosululloh saw bersabda :

مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Barangsiapa yang memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, niscaya Alloh memberi kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmirdzi dan Ibnu Majah )

Di antara akhlaq kepada teman tidak mencela atau mengolok-olok, dan tidak memanggilnya dengan panggilan yang buruk, karena Alloh ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُوْنُوْا خَيْرًا مِنْهُمْ وَ لاَ نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَ لا تَلْمِزُوْا أَنْفُسَكُمْ وَ لاَ تَنَابَزُوا بِالأَلْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإِيمَانِ وَ مَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lainnya, boleh jadi yang diolok-olok lebih baik daripada yang mengolok-olok, dan janganlah kaum wanita mengolok-olok wanita yang lainnya, boleh jadi wanita yang diolok-olok lebih baik daripada wanita yang mengolok-olok, jangan pula mencela diri sendiri, dan janganlah memanggil dengan julukan-julukan ( yang jelek ), sejelek-jelek nama adalah kefasiqan setelah iman, barangsiapa yang tidak bertaubat mala mereka itulah orang-orang yang zhalim.” ( Qs. Al-Hujurot : 11 )

Di antara akhlaq kepada teman yaitu tidak menggunjing yaitu tidak menyebarkan aib dan kekurangannya. Alloh berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَ لاَ تَجَسَّسُوْا وَ لاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lainnya, apakah salah seorang di antara kalian suka memakan bangkai saudaranya yang sudah mati ? Tentu kalian tidak menyukainya. Bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” ( Qs. Al-Hujurot : 12 )

Rosululloh saw bersabda :

وَ مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang menyembunyikan aib seorang muslim, Alloh pasti akan menutup aibnya pada hari qiamat.” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi )

Di antara akhlaq kepada teman yaitu tidak saling mendengki, tidak saling menipu, tidak saling membenci dan tidak saling membelakangi, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

لاَ تَحَاسَدُوْا وَ لاَ تَنَاجَشُوْا وَ لاَ تَبَاغَضُوْا وَ لاَ تَدَابَرُوْا

“Janganlah kalian saling mendengki, jangan saling menipu, jangan saling membenci dan jangan saling membelakangi !” ( HR. Ahmad dan Muslim )

Di antara akhlaq kepada teman yaitu tidak saling menzhalimi, sebagaimana firman Alloh dalam hadits qubsi :

يَا عِبَادِيْ إِنِّيْ حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَ جَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوْا

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan zhalim atas diri-Ku, dan Aku pun telah menjadikannya haram di antara kalian maka janganlah kalian saling menzhalimi !” ( HR. Muslim )

Rosululloh saw bersabda :

عَنْ أَنَسٍ t قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r : انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُوْمًا ! قَالُوْا :

يَا رَسُوْلَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا ؟ قَالَ : تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ

“Dari Anas ra dia berkata : “Rosululloh saw bersabda : “Tolonglah saudaramu dalam keadaan zhalim atau pun dizhalimi !” Para Shahabat pun bertanya : “Wahai Rosululloh, ini bila kami menolongnya dalam keadaan dia dizhalimi, bagaimana kami menolongnya dalam keadaan dia berbuat zhalim ?” Rosul menjawab : “Cegah dia dari melakukannya !” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori dan At-Tirmidzi )

Di antara akhlaq kepada teman adalah tidak menyuruh berdiri seseorang untuk kemudian dia menduduki tempat duduknya, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

لاَ يُقِيْمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ فَيَجْلِسَ فِيهِ وَ لَكِنْ تَفَسَّحُوْا وَ تَوَسَّعُوْا

“Tidak layak menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya kemudian dia duduk padanya, tetapi berlapang-lapanglah dan luaskanlah !” ( HR. Ahmad dan Muslim )

Di antara akhlaq kepada teman adalah tidak boleh mendiamkan lebih dari tiga hari, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam :

وَ لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari tiga hari.” ( HR Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dll )

Di antara akhlaq kepada teman adalah saling mengoreksi dengan semangat persaudaraan, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ وَ الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَ يَحُوْطُهُ مِنْ وَرَائِه

“Seorang mu’min adalah cermin bagi mu’min lainnya, dan seorang mu’min adalah saudara bagi mu’min yang lainnya, dia mencegahnya dari kerugian dan menjaga ( membela)nya di belakangnya.” ( HHR. Abu Dawud )

Di antara akhlaq kepada teman adalah tidak suka mencela dan berkata kotor atau pun kasar, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَ لاَ اللَّعَّانِ وَ لاَ الْفَاحِشِ وَ لاَ الْبَذِيْءِ

“Seorang mu’min bukanlah orang yang suka mencela, tidak suka melaknat, tidak berbuat keji dan tidak berkata kotor.” ( HSR Ahmad dan At-Tirmidzi )

Rosululloh saw juga bersabda :

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَ قِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencela seorang muslim adalah kefasiqan dan memeranginya adalah kekufuran.” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, An-Nasai dll )

Dan tidak boleh pula memutuskan hubungan silaturrahim, karena Nabi saw bersabda :

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan hubungan silaturrhim.”

( HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi )

Di antara akhlaq kepada teman adalah tidak boleh mencuri dengar pembicaraan yang mereka. Rosululloh saw bersabda :

مَنْ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيْثِ قَوْمٍ وَ هُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ صُبَّ فِي أُذُنِهِ الآنُكُ

يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang berusaha mendengarkan pembicaraan orang-orang yang mereka tidak suka ( untuk didengar pihak lain ) atau mereka menghindarinya niscaya akan dituangkan timah ke dalam telinga mereka pada hari qiyamat.” ( HR. Ahmad dan Al-Bukhori )

Di antara akhlaq kepada teman yaitu mema’afkan kesalahan teman-teman, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

وَ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَ أَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِيْنَ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa mema’afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas ( tanggungan ) Alloh. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim.” ( Qs. Asy-Syuro’ : 40 )

Di antara akhlaq dengan teman yaitu memilih teman karib yang baik karena teman karib atau sahabat dekat akan banyak mempengaruhi agama dan akhlak seseorang, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِطُ

“Seseorang berdasarkan agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian meneliti dengan siapa dia bergaul.” ( HHR Ahmad )

CINTA BUTUH PENGORBANAN

Ketika Nabi Ibrohim  tidak kunjung dikaruniai anak, maka dia pun bermohon kepada Alloh ta’ala :
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku ( seorang anak ) yang termasuk orang-orang yang saleh.” ( Qs. Ash-Shoffat : 100 )
Kemudian Ibrohim  pun diizinkan oleh Saroh untuk menikahi Hajar, lalu Alloh kabulkan permohonannya :
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلاَمٍ حَلِيْمٍ
“Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat derma wan.” ( Qs. Ash-Shoffat : 101 )
Maka Hajar pun melahirkan Nabi Isma’il  .
Nabi Ibrohim  adalah seorang yang sangat besar kecintaannya ke pada Alloh, sehingga Alloh pun menjadikan dia sebagai Kholil ( kekasih )-Nya, sebagaimana firman Alloh ta’ala :
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً
“Dan Alloh telah menjadikan Ibrohim sebagai Kholil ( kekasih )-Nya.”
( Qs. An-Nisa’ : 125 )
Namun setelah kelahiran puteranya, Ibrohim pun diuji kecintaannya kepada Alloh, karena banyak orang yang tulus mencintai Alloh ketika mereka tidak memiliki anak, tetapi ketika mereka dikaruniai anak, mereka malah menjadi-kan anaknya sebagai sekutu bagi Alloh, sebagaimana firman Alloh ta’ala :
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلاً خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَت دَّعَوَا اللّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحاً لَّنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحاً جَعَلاَ لَهُ شُرَكَاء فِيمَا آتَاهُمَا فَتَعَالَى اللّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dialah Yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan ( beberapa waktu ). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya ( suami-isteri itu ) bermohon kepada Alloh Tuhannya seraya berkata : “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sholeh, tentu lah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”. Tatkala Alloh memberi ke pada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Alloh terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Alloh dari apa yang mereka persekutukan.” ( Qs. Al-A’rof : 189 – 190 )
Demikianlah kebanyakan manusia yang tidak tahu berterima kasih.
Ketika Nabi Ibrohim  telah dianugerahi Isma’il, segera saja Alloh menguji kecintaan Ibrohim kepada-Nya, apakah masih seperti se-mula atau telah berkurang sebagaimana umumnya manusia.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ
مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka tatkala anak itu sampai ( pada umur sanggup ) berusaha bersama-sa- ma Ibrohim, Ibrohim berkata : “Hai anakku sesungguhnya aku melihat da-lam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab : “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Alloh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.”
( Qs. Ash-Shoffat : 102 )
Yaitu Nabi Ibrohim  diuji untuk membuktikan cintanya kepada Alloh de-ngan mengorbankan anak yang saat itu baru satu-satunya yang ia miliki. Pe-rintah berkorban ini dikirimkan melalui mimpi, karena mimpi bagi seorang Nabi adalah wahyu, sebagaimana keterangan Ibnu ‘Abbas  :
رُؤْيَا الأَنْبِيَاءِ وَحْيٌ
“Mimpi para Nabi adalah wahyu.” ( HSR. At-Tirmidzi )
Demikian pula keterangan dari ‘Ubaid bin ‘Amr sebagaimana diriwayat-kan oleh Imam Al-Bukhori dalam shohihnya. Adapun mimpi dari selain nabi dan rosul sama sekali bukan wahyu. Andaipun ada yang benar se-suai dengan kenyataan, namun semua itu bukan wahyu, tetapi sekedar ke gembiraan yang Alloh berikan kepada seorang muslim, sebagaimana sab- da Rosululloh  :
رُؤْيَا الْمُسْلِمِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ
“Mimpi seorang muslim adalah 1/46 bagian dari kenabian.”
( HSR. At-Tirmidzi )
Perintah untuk mengorbankan anak semata wayangnya pun dilak-sanakan oleh Nabi Ibrohim  untuk membuktikan betapa besar cintanya kepada Alloh, sebagaimana firman Alloh ta’ala :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Di antara manusia ada yang membuat tandingan-tandingan bagi Alloh yang mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh, adapun orang-orang yang beriman sangat amat cintanya kepada Alloh.”
( Qs. Al-Baqoroh : 165 )
Pada perkataan Nabi Ibrohim : “Hai anakku sesungguhnya aku meli hat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa penda- patmu !” menunjukkan keharusan seseorang yang hendak menerapkan suatu hukum atau aturan Alloh mesti didahului dengan kefahaman dari si penegak hukum maupun orang yang terkena kewajiban hukum tersebut terhadap isi hukum atau aturan itu.
Pada jawaban Nabi Isma’il  ketika hendak dikorbankan oleh ayahnya : “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; in- sya Alloh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” ada-lah jawaban dari seorang anak yang sholih yang selalu mendukung kesho lehan dari orang tuanuya. Karena banyak anak yang malah menjadi peng-halang orang tuanya dalam menta’ati Alloh ta’ala, oleh karena itu Alloh berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ
وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Alloh, barangsiapa yang melaku kan perbuatan itu maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”
( Qs. Al-Munafiqun : 9 )
Di sini pun ada pelajaran yang berharga bagi kita, yaitu pentingnya kesabaran dalam menta’ati perintah Alloh ta’ala, sebagaimana firman Alloh :
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ
“Bersabarlah terhadap hukum Tuhanmu !”
( Qs. Al-Qolam : 48 dan Al-Insan : 24 )
Yakni sabarlah dalam menerima dan melaksanakan perintah Alloh. Karena betapa banyak orang yang semangat melaksanakan suatu amalan, namun me reka tidak memiliki kesabaran, sehingga patah di tengah jalan. Oleh karena itu Nabi Isma’il mengatakan : “insya Alloh kamu akan mendapatiku terma- suk orang-orang yang sabar”, yaitu hanya dengan kehendak dan pertolongan Alloh semata kesabaran tersebut dapat diraih.

TOTEMISME

A J A R A N P E M U J A A N K E P A D A B I N A T A N G

Totemisme atau Animalforship adalah faham yang meya kini bahwa manusia memiliki hubungan keluarga dengan bina tang. Kemudian keyakinan ini mengarahkan pengikutnya un- tuk meyakini bahwa ada beberapa binatang yang memiliki kekuatan gaib, lalu mereka mengkeramatkan binatang-bina-tang tersebut, bahkan sampai memujanya.

Pada beberapa aliran kepercayaan tradisional pemaha-man totemisme ini bukan merupakan hal baru. Hampir selu- ruh aliran kepercayaan menganut faham ini. Seperti agama Mesir Kuno yang memuja sapi ( lembu ), ular, buaya, kucing dan sebagainya. Mereka meyakini bahwa di antara para dewa ada yang seringkali turun ke bumi dengan menjelma ke dalam bentuk-bentuk bintang, seperti Dewa Horus yang sering menjel ma menjadi burung Rajawali, Dewa Ptah ( Cahaya ) yang se-ring menjelma dalam bentuk lembu dan lain-lainnya. Yang pa-ling terkenal dari binatang yang dipuja oleh orang-orang Mesir Kuno yaitu lembu APIS yang mereka puja di tempat pemujaan mereka. Bila Apis tersebut mati, maka diadakan upacara besar besaran, untuk kemudian diadakan penggantian Apis baru.

Dalam agama Hindu pun keyakinan serupa bisa pula ki-ta jumpai. Beberapa dewa mereka ada juga yang digambarkan berujud setengah binatang. Bahkan penganut Hindu memuja dan mengkeramatkan sapi ( lembu ). Ada pula sebagian penga-nut Hindu di India yang mengkeramatkan ular.

Dalam agama Budha, binatang secara keseluruhan di-anggap memiliki hubungan dengan manusia, karena dalam aja ran Budha dikenal adanya reinkarnasi yaitu adanya penitisan kembali ruh setelah kematiannya ke tubuh manusia atau bina-tang. Sehingga mereka memantang makan daging, dengan ala-san mungkin saja hewan yang dimakan olehnya adalah titisan dari nenek moyang atau keluarganya.

Demikian pula agama-agama kaum primitif yang pasti menganut ajaran totemisme. Ada yang beralasan karena manu sia dengan binatang yang dikeramatkan itu berasal dari nenek moyang yang sama, atau karena nenek moyang mereka berse-kutu dengan binatang tersebut, atau karena keyakinan adanya reinkarnasi, dan sejumlah alasan lainnya.

Di Keraton Solo ada seekor kerbau yang dianggap kera-mat yang dinamai dengan Kyai Slamet. Pada hari-hari terten-tu Kyai Slamet dibiarkan berjalan-jalan di pasar memakani sa-yuran milik para pedagang di pasar. Anehnya, para pedagang itu tidak marah atau merasa rugi karena sayuran dagangan mereka dimakani oleh Kyai Slamet. Bahkan mereka merasa se nang bila sayuran mereka disantap oleh Kyai Slamet, karena mereka yakin bila sayurannya disantap oleh Kyai Slamet mere ka bakal beroleh kemujuran. Ini merupakan bentuk amalan to- temisme atau animalforship yang masih ada hingga hari ini.

Di masyarakat Jawa muncul pula keyakinan bahwa me-melihara burung perkutut akan mendatangkan rejeki dan ke-mujuran. Sehingga banyak di antara mereka yang memelihara burung perkutut dengan harapan bisa mudah mendapat rejeki.

Pernah pula ramai orang-orang China memelihara ikan Louhan yang diyakini mampu mendatangkan hoki. Perbuatan ini diikuti pula oleh sebagian kaum muslimin di negeri ini da-lam berlomba-lomba memelihara louhan dengan tujuan agar bi sa mendapatkan hoki atau keberuntungan.

Sebelumnya, orang-orang kaya pada memelihara ikan Arwana yang dianggap mampu mendatangkan kewibawaan se-lain juga sebagai simbol status sosial pemiliknya.

Ada pula keyakinan bahwa seseorang yang kejatuhan ce cak bakal apes atau celaka. Sebagai penebusannya mereka ha-rus menangkap cecak tersebut dan membunuhnya dengan cara mengkoyak tubuh cecak tersebut. Sebagian mereka beralasan bahwa cecak adalah hewan yang pernah memberitahukan tem-pat persembunyian Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq rodhiyallohu ’anhu di gua Tsur, pada-hal sanad kisah tersebut derajatnya dho’if ( lemah ). Sedang-kan riwayat yang shohih dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah anjuran membunuh tokek yang disebut oleh Ro-sululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagai ”setan kecil ”. Namun ada yang menjadikan bunyi tokek itu sebagai sarana untuk mengambil suatu keputusan agar terhindar dari kesial an.

Masih ada pula keyakinan masyarakat kita bahwa siapa saja yang menabrak kucing di jalan maka ia bakal mendapat-kan kesialan. Penebusnya adalah mengadakan selamatan di ja lan yang ia menabrak kucing itu di sana. Mereka beralasan bahwa kucing adalah hewan kesayangan Rosulullohshollallo- hu ‘alaihi wa sallam, padahal tidak ada satu pun riwayat yang menyebutkan akan hal tersebut.

Ada juga yang meyakini bahwa kucing adalah nenek mo-yang dari harimau, sehingga bila mereka ingin masuk ke da-lam hutan dengan selamat tanpa takut dari gangguan harimau maka mereka mesti membawa serta kucing.

Sebagian nelayan ada yang mengkeramatkan ikan lum- ba-lumba dan ikan wadas lintang. Bahkan ada yang meyakini adanya ikatan keluarga antara manusia dengan lumba-lumba.

Sebagian masyarakat Jawa masih ada yang meyakini bahwa untuk terhindar dari terkaman harimau bila bersua de-ngan harimau, ia mesti memanggil harimau itu dengan sebu-tan ”mbah ”. Begitu pula bila hendak menghilangkan ganggu-an tikus, ia mesti memanggil tikus dengan sebutan ”den bagus” dan lain sebagainya.

Ada pula yang meyakini bahwa bila ada burung hantu atau beberapa jenis burung lainnya hinggap di rumah sese- orang berarti akan ada penghuni rumah itu yang bakal mati.

Bahkan sebagian manusia meyakini adanya hewan-he-wan fiktif yang memiliki kesaktian, seperti : ular naga, kili su-ci, makara, kuda unicorn, kuda sembrani dan lain-lainnya.

Semua amalan di atas dan yang sejenisnya adalah amal-an totemisme atau animalforship yang merupakan salah satu bentuk dari kebodohan ( jahiliyyah ) dan kesyirikan. Sesung-guhnya kedudukan binatang tidak lebih mulia daripada manu-sia, sehingga meyakini bahwa suatu binatang mampu menda- tangkan keberuntungan ( hoki ) atau kemalangan ( apes ) ada- lah tindakan menyekutukan Alloh ta’ala dengan binatang. Ka- rena hanya Alloh saja yang mampu mendatangkan semua ke- baikan dan keburukan, tidak ada sekutu bagi Alloh ta’ala.

TUHAN ANAK atau ANAK TUHAN

SEBUAH PENYIMPANGAN DARI AJARAN TAUHID

Di antara penyimpangan dari ajaran tauhid yang dilaku- kan berbagai agama di dunia ini, yaitu keyakinan tentang ada-nya anak Tuhan atau tuhan anak. Dan ini pula sebab utama umat Yahudi dan Nashrani terjerumus ke dalam kesyirikan dan kekafiran. Alloh Ta’ala berfirman :

وَ قَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ابْنُ اللهِ وَ قَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللهِ , ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ , يُضَاهِئُوْنَ قَوْلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ , قَاتَلَهُمُ اللهُ أَنَّى يُؤْفَكُوْنَ “

Orang-orang Yahudi berkata : “ ‘Uzair adalah anak Alloh,” dan orang-orang Nashrani berkata : “ Al-Masih (‘Isa) adalah anak Alloh.” Begitulah perkataan yang mereka ucapkan dengan mu-lut-mulut mereka, ucapan mereka menyerupai ucapan orang-orang kafir sebelumnya. Semoga Alloh memerangi mereka ! Bagai mana sampai mereka bisa dipalingkan ? “ ( At-Taubah : 30 )

Orang-orang Yahudi menjadi kafir ketika mereka menganggap ‘Uzair sebagi anak Alloh, lalu mereka pun menyembahnya disam ping menyembah Alloh. Berkata Al-Imam Ibnul-Jauzi rohimahul- loh : “ Faktor yang mendorong mereka berpaling kepada pemaha-man ini, disamping karena kebodohan mereka tentang berbagai hakikat, adalah karena mereka melihat ‘Uzair bisa hidup kemba-li setelah mati dan membaca kitab Taurot dengan hafalannya, kemudian mereka berkata dengan perkataan tersebut berdasar- kan persangkaan-persangkaan yang batil.” Berkata Ibnu Katsir rohimahulloh : “ Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ia bertanya kepada ‘Abdulloh bin Salam tentang firman Alloh Ta’ala :

وَ قَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ بْنُ اللهِ

( dan orang Yahudi berkata : Uzair anak Alloh ), kenapa mereka berkata demikian ? “ ‘Abdulloh bin Salam menyebutkan bahwa dahulu tidak ada se- orangpun dari Bani Isroil yang hafal kitab Taurot, lalu Bani Isroil berkata : “ Nabi Musa tidak mampu mendatangkan Taurot ke- pada kita kecuali dalam bentuk sebuah kitab, sedangkan ‘Uzair mendatangkan Taurot kepada kita dengan tanpa kitab, maka se- kelompok dari mereka melemparkan Taurot dan berkata : “ Uzair adalah anak Alloh ”. Demikian pula orang-orang Nashrani dari aliran yang mana pun mereka semua meyakini bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihis-sa- laam adalah anak Alloh, karena semua Injil yang empat mene- gaskan akan hal tersebut. Bahkan Injil Yohanes sengaja ditulis untuk menegaskan akan hal ini, sebagaimana disebutkan : “Teta pi semua yang tercantum di sini telah dicatat, sampai kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” Mereka ha-nya berbeda tentang penafsiran makna “anak Alloh”. Sebagian mereka menafsirkan bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihis-salam memang be-nar-benar anak Alloh yang dilahirkan oleh Maryam, dan ini meru pakan pendapat sebagian pengikut aliran Malkaniyyah dan Ya’- qubiyyah. Sebagian lainnya berpendapat bahwa Nabi ‘Isa memili- ki dua substansi, yaitu al-Qodim (yang lama) dan al-Akhir (yang baru), inilah yang umumnya dianut oleh aliran Nasthuriyyah dan sebagian Ya’qubiyyah. Bahkan sebagian kaum Malkaniyyah dan Ya’qubiyyah lainnya meyakini bahwa ‘Isa itulah Alloh. Dalam sejarah agama Kristen dapat kita ketahui bahwa penetapan Nabi ‘Isa ‘alaihis-salaam sebagai anak Alloh baru ter- jadi di akhir Abad II Masehi. Kemudian pada Konsili di Nicea th. 325 diputuskan untuk menyamakan antara tuhan anak dengan Tuhan Bapa. Pada abad ke-III baru Roh Qudus dipertuhankan. Sementara itu penganut Katholik menyejajarkan Maryam dengan trinitas dalam Konsili di Ephese th. 431.

Di samping itu kita pun bisa mendapati bahwa dalam Injil Lukas ( 3 ) : 38 disebutkan berkenaan dengan silsilah Yesus : “….. anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah”, yaitu Nabi Adam ‘alaihis-salam juga diyakini sebagai anak Alloh. Berkenaan dengan penuhanan terhadap Nabi ‘Isa, muncul di kalangan kaum muslimin aliran Khobithiyyah yang menyeru pakan Nabi ‘Isa dengan Alloh, dan menganggap bahwa ‘Isa ada- lah tuhan kedua, dan ‘Isa-lah yang akan meng-hisab amalan se-luruh makhluq pada hari Qiyamat. Keyakinan tentang tuhan anak atau anak Tuhan sebenar- nya telah lama dianut oleh kaum musyrikin.

Di antara mereka ada yang meyakini bahwa para malaikat adalah anak perempuan Alloh, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an : فَاسْتَفْتِهِمْ أ لِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَ لَهُمُ الْبَنُوْنَ , أَمْ خَلَقْنَا الْمَلاَئِكَةَ إِنَاثًا وَ هُمْ شَاهِدُوْنََ “Tanyakan kepada mereka ( orang-orang musyrikin Mekkah ) : “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk me- reka anak-anak laki-laki ? Atau apakah ( ketika ) Kami mencipta kan para malaikat berupa perempuan mereka ikut menyaksikan- nya ?” [ Qs. Ash-Shoffat : 149–150 ] Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir rohimahulloh : “Alloh Ta’ala telah menyebutkan tentang (perkataan mereka yang berkenaan de-ngan) malaikat yaitu tiga perkataan yang merupakan puncak da- ri kekufuran dan kedustaan : Pertama, menjadikan malaikat se- bagai anak-anak Alloh, dengan demikian mereka telah menjadi-kan Alloh mempunyai anak, ( Kedua ) menjadikan anak-anak Alloh berupa perempuan , ( Ketiga ) mereka menyembah para malaikat selain ( menyembah kepada ) Alloh ta’ala wa taqodda- sa. Setiap (satu) dari perkataan tersebut telah mencukupi untuk mengekalkannya di dalam neraka Jahannam.” Ada pula yang meyakini bahwa berhala-berhala yang sela- lu mereka sembah adalah anak-anak perempuan Alloh, sehingga mereka menamainya dengan nama-nama Alloh yang dibuat da-lam bentuk muannats ( bentuk perempuan ), seperti: الْمَنَاةُ , العُزَّى, الاَّتَ yang diambil dari nama Alloh : الْمَنَّانُ , العَزِيْزُ , اللهُ yang dimuannatskan. أً فَرَأَيْتُمُ اللاَّتَ وَ الْعُزَّى وَ الْمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأُخْرَى ؟ أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَ لَهُ الأُنْثَى ؟ تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيْزَى “Apakah pendapat kalian tentang Al-Laata, Al-‘Uzza dan Al-Ma-nat yang ketiga lainnya ? Apakah bagi kalian anak laki-laki, dan bagi Alloh anak perempuan ? Yang demikian tentu merupakan pembagian yang tidak adil.” [ An-Najm : 19 – 20 ] Di kalangan umat Islam ada pula yang mengaku-aku seba gai anak Alloh, sebagaimana Al-Mughiroh bin Sa’id Al-‘Ijli yang mengaku pernah naik ke langit, lalu Alloh mengusap kepalanya dan berfirman : “Wahai anakku, sampaikanlah dariku !” Penetapan keyakinan bahwa Alloh memiliki anak sebenarnya ber tujuan agar mereka bisa dibenarkan untuk menyembah kepada selain Alloh. Maha Suci Alloh dari memiliki anak dan sekutu

FAHAM MENGABAIKAN TUHAN

Di antara racun pemikiran yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam adalah sekulerisme, yakni memisahkan agama dari kehidupan du-nia. Faham ini pertama muncul pada abad pertengahan ketika daratan Ero pa dipenuhi dengan dominasi gereja. Maka para reformer mengadakan ge rakan pencerahan ( renaisance ) yang di antara hasilnya adalah muncul-nya ide sekulerisme. Theocrasi atau faham ketuhanan dianggap sebagai penyebab kemunduran peradaban manusia di daratan Eropa.

Orang pertama yang mempopulerkan sekulerisme adalah George Holoyake ( 1846 ) seorang penulis Inggris. Holoyake menggunakan isti- lah sekularisme untuk menjelaskan pandangannya yang mendukung tata-nan sosial terpisah dari agama, tanpa merendahkan atau mengkritik se-buah kepercayaan beragama, demikian menurut anggapan Holoyake. Pa-dahal sikap dan faham menata kehidupan terlepas dari aturan agama sa-ma artinya dengan mengabaikan kesempurnaan Tuhan sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta. Alias menganggap Tuhan tidak memiliki ke-mampuan menetapkan aturan kehidupan yang terbaik bagi umat manusia. Memang masyarakat Eropa pada zamannya merasa gerah dengan campur tangan berlebihan dari pihak Gereja yang demikian kakunya, bahkan da-lam semua lini kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Sekulerisme berbeda dengan Atheisme. Karena kaum sekuler ma-sih mempercayai adanya Tuhan, sedang kaum atheis sudah menjadi ke-lompok anti Tuhan. Bahkan seorang yang paling fanatik terhadap faham sekulerisme, masih memakai ritual agamanya setidaknya dalam upacara pernikahan dan kematiannya. Ini berbeda dengan kaum atheis yang selalu menghujat Tuhan dan memusuhi seluruh agama.

Dalam agama Islam, sekulerisme tidaklah dibutuhkan, karena Is- lam sebagai agama yang sempurna dan aturannya paling lengkap tetap memberikan ruang gerak yang nyaman untuk kreatifitas akal dalam masa lah-masalah keduniawian, sebagaima sabda Rosululloh r kepada para Shahabat y ketika menyerbukkan bunga-bunga pohon kurma :

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.” ( HR. Muslim )

Sehingga dalam masalah duniawi agama Islam hanya memberikan rambu rambu yang tidak boleh diterjang oleh manusia. Sehingga terlahir kaidah:

الأَصْلُ فِي الشَّيْءِ مُبَاحٌ

“Hukum asal atas segala sesuatu ( dari perkara duniawi ) adalah boleh.”

Yakni selama tidak ada larangan, maka diizinkan bagi kaum muslimin un tuk menggunakan kreatifitasnya dalam perkara-perkara di luar ritual aga-ma. Adapun dalam masalah ritual keagamaan, maka yang berlaku adalah:

الأَصْلُ فِي الْعِبَادَةِ مَمْنُوْعٌ

“Hukum asal dalam masalah ibadah adalah terlarang.”

Yakni tidak diperbolehkan melakukan ibadah apa pun tanpa ada perintah dari Alloh dan Rosul-Nya, sebagaimana sabda Rosululloh r :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan apa pun yang tidak ada padanya perintah Kami, maka dia tertolak.” ( HR. Muslim )

Mengetahui kedua kaidah ini adalah perkara penting agar kita tidak terja-tuh ke dalam faham sekulerisme atau pun ekstremisme dalam beragama.

Di kalangan umat Islam, kemunculan ide-ide sekulerisme berawal dari sikap Ibnu Rusyd yang mencoba membela pemahaman kufur Ibnu Si na dari serangan Imam Al-Ghozali yang memvonisnya kafir. Lalu Ibnu Rusyd berupaya memisahkan filsafat dari agama sebagaimana yang dila-kukan oleh Ibnu Sina dan Al-Farobi. Hal ini karena filsafat Ibnu Sina me-ngekor kepada gaya filsafat Socrates dan Plato yang anti agama dan filsa-fat Aristoteles yang paganisme ( berhalaisme ).

Di akhir Perang Dunia I, Mustafa Kamal berusaha menerapkan fa ham sekulerisme total di Turki. Bukan hanya dalam masalah duniawi yang menerjang rambu-rambu agama, tetapi dalam masalah sosial politik pun demikian. Dia merubah Kesultanan Turki Utsmani menjadi Republik Turki. Dan Turki adalah negara muslim pertama yang memakai sistem po litik yang sekuler, yaitu demokrasi. Puncaknya adalah upaya Mustafa Ka-mal yang berupaya mengganti adzan dan bacaan sholat dengan bahasa Turki. Meski upaya tersebut tidak berlanjut, tetapi sekulerisme tersistema tis tetap dilakukan di Republik Turki sampai sekarang ini. Terbukti de-ngan dikeluarkan atutan yang melarang berjilbab di lingkungan instansi Pemerintah dan sekolah formal.

Ide sekulerisme terus digelontorkan oleh musuh-musuh Islam di berbagai negara muslim. Di mulai dengan merubah sistem politiknya de-ngan demokrasi, sampai penyebaran faham liberalisme melalui berbagai instansi resmi. Sebagaimana di Indonesia, bagaimana upaya sekulerisme dilakukan di tataran politik dengan mengadopsi sistem demokrasi ala Yu nani, hingga menebarkan faham Islam Liberal di IAIN, STAIN dan lem-baga-lembaga lainnya.

Sekulerisme pun tidak hanya dilakukan oleh lembaga resmi Nega ra, bahkan di tataran para agamawan pun mulai diluncurkan wacana seku lerisme. Berawal dari semangat merebut kursi, dibentuklah partai-partai sekuler yang berbasiskan ormas Islam, seperti PAN dan PKB. Masih da-lam kerangka semangat meningkatkan jumlah kursi di Perleman ala Yahu di, baru-baru ini PKS pun memproklamirkan sekulerisme partainya de-ngan menyebut dirinya sebagai partai terbuka. Demikian sistematis upaya sekulerisme di berbagai bidang.

Masih banyak pembahasan yang terkait dengan upaya sekuleris-me kaum muslimin di berbagai bidang ini. Namun bagi setiap mu’min se-jati selalu berkeyakinan bahwa aturan Alloh adalah yang terbaik.

Rasisme, Kapitalisme dan Feodalisme

BENTUK PEMUJAAN KEPADA STATUS SOSIAL

Status sosial, kedudukan, jabatan bahkan ras terkadang men-jadi sesembahan banyak orang. Di mata mereka kebenaran dan keu- tamaan hanya ada pada ras mereka atau pada ketinggian suatu ke-dudukan dan jabatan. Sebagaimana ini adalah agama para penen- tang Nabi dan Rosul, yang mereka berkata kepada Nabi-nya :

أَنُؤْمِنُ لَكَ وَ اتَّبَعَكَ الأَرْذَلُوْنَ

”Apakah kami akan beriman kepadamu sedangkan yang mengikuti- mu adalah orang-orang yang hina.” ( Qs. Asy-Syuro : 111 )

dalam ayat yang lain disebutkan perkataan mereka:

وَ مَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلاَّ الَّذِيْنَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ

”Tidaklah kami melihat orang-orang yang mengikutimu selain orang orang yang rendah derajatnya di antara kami dan gampang perca- ya.” ( Qs. Hud : 27 )

dalam ayat lain disebutkan kisah mereka :

وَ إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا أَيُّ الْفَرِقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا وَ أَحْسَنُ نَدِيًّا

”Dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang nis-caya orang-orang yang kafir akan berkata kepada orang-orang yang beriman : ”Yang manakah di antara dua kelompok ini ( yaitu kafir dan mu’min ) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih bagus tem pat pertemuannya ?” ( Qs. Maryam : 73 )

Demikianlah keadaan mereka yang berbangga dan sombong dengan status sosialnya, mereka memujanya hingga melupakan kebenaran.

Dalam agama Yahudi pemujaan kepada ras Israel ( Smith ) begitu kental, sampai-sampai bangsa Yahudi menganggap bangsa-bangsa lain sebagai budak atau calon budak mereka. Inilah sebab-nya mereka menolak beriman kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam padahal mereka adalah kaum yang pernah menga-barkan kepada bangsa Aus dan Khozroj tentang kedatangan nabi akhir zaman. Namun ketika nabi yang mereka sebut-sebut itu da-tang bukan dari bangsa Israel, mereka pun mengingkarinya dan mendustakannya. Sebagaimana dikatakan oleh ’Abdulloh bin ’Abbas rodhiyallohu ’anhuma : ”Sesungguhnya orang-orang Yahudi mencari kemenangan atas suku Aus dan Khozroj dengan Rosul Alloh shollal- lohu ‘alaihi wa sallam sebelum Alloh mengutusnya. Tetapi ketika Alloh mengutus rosul tersebut dari bangsa ’Arab, mereka mengkafiri nya dan mengingkari apa yang dahulu mereka katakan. Sehingga Mu’adz bin Jabal, Bisyr bin Al-Baro’ bin Ma’rur dan Dawud bin Sala-mah berkata kepada mereka : ”Wahai orang-orang Yahudi, bertaqwa lah kalian kepada Alloh dan masuk Islamlah ! Sesungguhnya kalian dahulu pernah akan mencari kemenangan atas kami dengan Muham mad shollallohu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ketika itu kami masih syirik, kalian memberitahu kepada kami bahwa beliau akan diutus, dan kalian pun menerangkan sifat-sifatnya.” Salaam bin Masykum saudara Yahudi Bani Nadhir berkata : ”Dia tidak datang dengan se-suatu pun yang kami kenali, dia bukanlah yang kami pernah sebut-sebut kepada kalian.” Maka Alloh turunkan firman-Nya :

وَ لَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذيْنَ كَفَرُوْا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهِ , فَلَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْكَافِرِيْنَ

”Ketika datang kepada mereka sebuah kitab dari sisi Alloh yang membenarkan kitab yang ada pada mereka, dan mereka sebelum itu senantiasa meminta kemenangan atas orang-orang yang kafir, tetapi ketika telah datang apa yang mereka kenal, mereka pun mengingka-rinya. Maka laknat Alloh atas orang-orang yang kafir.”

- ( Qs. Al-Baqoroh : 89 ) - [1]

Dalam agama Hindu, manusia dikelompokkan dalam bebera-pa kelas atau kasta, yaitu :

Brahmana ( golongan pendeta )
Ksatria ( golongan bangsawan )
Waisya ( golongan pedagang dan petani )
Sudra ( golongan buruh dan pekerja kasar )
Paria ( golongan paling rendah yang tidak punya martabat )
Asal mula pembagian kasta itu karena kemenangan Bangsa Arya atas Bangsa Dravida yang berkulit lebih hitam, lalu bangsa Arya me mandang diri mereka lebih tinggi daripada bangsa Dravida. Lebih ja uh lagi, hanya golongan Brahma, Ksatia dan Waisya yang berhak mempelajari kitab Veda. Sedangkan golongan Waisya dan Paria ti-dak diperkenankan, bahkan diancam hukuman yang berat bila bera-ni membaca kitab Veda.

Kaum Imperialis Barat yang menjajah berbagai negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin pun melakukan aksi penjajahannya karena menganggap bahwa bangsa kulit putih lebih mulia atas bang sa-bangsa kulit hitam dan kulit merah. Mereka tidak segan menin-das dan memusnahkan bangsa jajahannya, bahkan mereka tidak me rasa berdosa atas tindakannya itu. Mereka malah merasa mendapat panggilan jiwa untuk menjadikan bangsa dan rasnya sebagai bangsa pilihan yang hanya mereka yang berhak hidup di muka bumi. Selain ras mereka hanya layak hidup sebagai budak mereka.

Sementara itu karakter feodalisme yang telah membudaya di kalangan bangsa-bangsa juga termasuk penuhanan kepada status so sial. Pemandangan yang jelas nampak adalah bagaimana seorang rakyat jelata bila hendak menghadap seorang raja atau pejabat mes-ti berjalan membungkuk atau berjongkok sambil menyembah. Begitu pula ketika ada seorang pejabat atau pembesar lewat di depan mere-ka, maka mereka harus bersimpuh dan menyembah. Pemandangan macam ini masih bisa kita lihat di hampir semua keraton yang ma-sih ada hingga kini.

Kejadian yang sama atau hampir serupa bisa pula kita saksi-kan pada masyarakat kapitalis, di mana orang-orang kaya yang ber-modal menempati posisi yang hampir sama dengan seorang raja. Me reka mesti dihormati oleh kaum buruh dan pekerjanya.

Di masyarakat kita, pemujaan kepada status sosial juga ke-rap kita saksikan sehari-hari. Bagaimana seorang bawahan harus berjalan membungkuk bila hendak melewati atasannya. Seorang anak kecil juga mesti berjalan dengan membungkukkan badan bila melewati orang yang lebih tua darinya.

Dalam dunia pendidikan, pemandangan tidak sehat ini pun bi sa pula kita lihat. Seperti dalam perploncoan siswa atau mahasiswa baru, di mana para yunior harus patuh dan pasrah pada apa saja ke-mauan para seniornya, meski pun harus melakukan hal-hal yang me malukan. Apa pun alasannya, ini adalah bentuk pemujaan kepada status sosial dan mengandung dosa syirik.

Masih banyak lagi pemujaan kepada status sosial yang semua itu adalah bentuk kesyirikan, baik yang terang-terangan atau pun yang terselubung. Hendaklah kita menghentikan semua pemujaan semacam ini, bukankah Alloh telah berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثَى وَ جَعَلْنَاكُمْ شُعُبًا وَ قَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

”Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami telah menjadi-kan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian bisa sa-ling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara ka-lian di sisi Alloh adalah orang yang paling taqwa.” ( Qs. Al-Hujurot : 13 )