Selasa, 13 Juli 2010

Rasisme, Kapitalisme dan Feodalisme

BENTUK PEMUJAAN KEPADA STATUS SOSIAL

Status sosial, kedudukan, jabatan bahkan ras terkadang men-jadi sesembahan banyak orang. Di mata mereka kebenaran dan keu- tamaan hanya ada pada ras mereka atau pada ketinggian suatu ke-dudukan dan jabatan. Sebagaimana ini adalah agama para penen- tang Nabi dan Rosul, yang mereka berkata kepada Nabi-nya :

أَنُؤْمِنُ لَكَ وَ اتَّبَعَكَ الأَرْذَلُوْنَ

”Apakah kami akan beriman kepadamu sedangkan yang mengikuti- mu adalah orang-orang yang hina.” ( Qs. Asy-Syuro : 111 )

dalam ayat yang lain disebutkan perkataan mereka:

وَ مَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلاَّ الَّذِيْنَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ

”Tidaklah kami melihat orang-orang yang mengikutimu selain orang orang yang rendah derajatnya di antara kami dan gampang perca- ya.” ( Qs. Hud : 27 )

dalam ayat lain disebutkan kisah mereka :

وَ إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا أَيُّ الْفَرِقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا وَ أَحْسَنُ نَدِيًّا

”Dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang nis-caya orang-orang yang kafir akan berkata kepada orang-orang yang beriman : ”Yang manakah di antara dua kelompok ini ( yaitu kafir dan mu’min ) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih bagus tem pat pertemuannya ?” ( Qs. Maryam : 73 )

Demikianlah keadaan mereka yang berbangga dan sombong dengan status sosialnya, mereka memujanya hingga melupakan kebenaran.

Dalam agama Yahudi pemujaan kepada ras Israel ( Smith ) begitu kental, sampai-sampai bangsa Yahudi menganggap bangsa-bangsa lain sebagai budak atau calon budak mereka. Inilah sebab-nya mereka menolak beriman kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam padahal mereka adalah kaum yang pernah menga-barkan kepada bangsa Aus dan Khozroj tentang kedatangan nabi akhir zaman. Namun ketika nabi yang mereka sebut-sebut itu da-tang bukan dari bangsa Israel, mereka pun mengingkarinya dan mendustakannya. Sebagaimana dikatakan oleh ’Abdulloh bin ’Abbas rodhiyallohu ’anhuma : ”Sesungguhnya orang-orang Yahudi mencari kemenangan atas suku Aus dan Khozroj dengan Rosul Alloh shollal- lohu ‘alaihi wa sallam sebelum Alloh mengutusnya. Tetapi ketika Alloh mengutus rosul tersebut dari bangsa ’Arab, mereka mengkafiri nya dan mengingkari apa yang dahulu mereka katakan. Sehingga Mu’adz bin Jabal, Bisyr bin Al-Baro’ bin Ma’rur dan Dawud bin Sala-mah berkata kepada mereka : ”Wahai orang-orang Yahudi, bertaqwa lah kalian kepada Alloh dan masuk Islamlah ! Sesungguhnya kalian dahulu pernah akan mencari kemenangan atas kami dengan Muham mad shollallohu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ketika itu kami masih syirik, kalian memberitahu kepada kami bahwa beliau akan diutus, dan kalian pun menerangkan sifat-sifatnya.” Salaam bin Masykum saudara Yahudi Bani Nadhir berkata : ”Dia tidak datang dengan se-suatu pun yang kami kenali, dia bukanlah yang kami pernah sebut-sebut kepada kalian.” Maka Alloh turunkan firman-Nya :

وَ لَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذيْنَ كَفَرُوْا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهِ , فَلَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْكَافِرِيْنَ

”Ketika datang kepada mereka sebuah kitab dari sisi Alloh yang membenarkan kitab yang ada pada mereka, dan mereka sebelum itu senantiasa meminta kemenangan atas orang-orang yang kafir, tetapi ketika telah datang apa yang mereka kenal, mereka pun mengingka-rinya. Maka laknat Alloh atas orang-orang yang kafir.”

- ( Qs. Al-Baqoroh : 89 ) - [1]

Dalam agama Hindu, manusia dikelompokkan dalam bebera-pa kelas atau kasta, yaitu :

Brahmana ( golongan pendeta )
Ksatria ( golongan bangsawan )
Waisya ( golongan pedagang dan petani )
Sudra ( golongan buruh dan pekerja kasar )
Paria ( golongan paling rendah yang tidak punya martabat )
Asal mula pembagian kasta itu karena kemenangan Bangsa Arya atas Bangsa Dravida yang berkulit lebih hitam, lalu bangsa Arya me mandang diri mereka lebih tinggi daripada bangsa Dravida. Lebih ja uh lagi, hanya golongan Brahma, Ksatia dan Waisya yang berhak mempelajari kitab Veda. Sedangkan golongan Waisya dan Paria ti-dak diperkenankan, bahkan diancam hukuman yang berat bila bera-ni membaca kitab Veda.

Kaum Imperialis Barat yang menjajah berbagai negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin pun melakukan aksi penjajahannya karena menganggap bahwa bangsa kulit putih lebih mulia atas bang sa-bangsa kulit hitam dan kulit merah. Mereka tidak segan menin-das dan memusnahkan bangsa jajahannya, bahkan mereka tidak me rasa berdosa atas tindakannya itu. Mereka malah merasa mendapat panggilan jiwa untuk menjadikan bangsa dan rasnya sebagai bangsa pilihan yang hanya mereka yang berhak hidup di muka bumi. Selain ras mereka hanya layak hidup sebagai budak mereka.

Sementara itu karakter feodalisme yang telah membudaya di kalangan bangsa-bangsa juga termasuk penuhanan kepada status so sial. Pemandangan yang jelas nampak adalah bagaimana seorang rakyat jelata bila hendak menghadap seorang raja atau pejabat mes-ti berjalan membungkuk atau berjongkok sambil menyembah. Begitu pula ketika ada seorang pejabat atau pembesar lewat di depan mere-ka, maka mereka harus bersimpuh dan menyembah. Pemandangan macam ini masih bisa kita lihat di hampir semua keraton yang ma-sih ada hingga kini.

Kejadian yang sama atau hampir serupa bisa pula kita saksi-kan pada masyarakat kapitalis, di mana orang-orang kaya yang ber-modal menempati posisi yang hampir sama dengan seorang raja. Me reka mesti dihormati oleh kaum buruh dan pekerjanya.

Di masyarakat kita, pemujaan kepada status sosial juga ke-rap kita saksikan sehari-hari. Bagaimana seorang bawahan harus berjalan membungkuk bila hendak melewati atasannya. Seorang anak kecil juga mesti berjalan dengan membungkukkan badan bila melewati orang yang lebih tua darinya.

Dalam dunia pendidikan, pemandangan tidak sehat ini pun bi sa pula kita lihat. Seperti dalam perploncoan siswa atau mahasiswa baru, di mana para yunior harus patuh dan pasrah pada apa saja ke-mauan para seniornya, meski pun harus melakukan hal-hal yang me malukan. Apa pun alasannya, ini adalah bentuk pemujaan kepada status sosial dan mengandung dosa syirik.

Masih banyak lagi pemujaan kepada status sosial yang semua itu adalah bentuk kesyirikan, baik yang terang-terangan atau pun yang terselubung. Hendaklah kita menghentikan semua pemujaan semacam ini, bukankah Alloh telah berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثَى وَ جَعَلْنَاكُمْ شُعُبًا وَ قَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

”Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami telah menjadi-kan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian bisa sa-ling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara ka-lian di sisi Alloh adalah orang yang paling taqwa.” ( Qs. Al-Hujurot : 13 )

DI MANAKAH ALLAH ?

Ini adalah sebuah pertanyaan sederhana namun azasi yang banyak orang muslim terpedaya oleh syetan dengan berbagai jawaban yang me-nyesatkan. Jawaban-jawaban yang tanpa didasari ilmu akan menyeret pen jawabnya kepada berbagai pemahaman sesat, seperti ilhad ( pengingkar-an keberadaan Alloh ), tasybih ( penyerupaan Alloh dengan makhluk ), bahkan hingga ke pemahaman terkafir yang melebihi kekafiran Yahudi dan Nashrani, yaitu pemahaman Wihdatul-Wujud ( Pantheisme ).

Pemahaman tentang “di manakah Alloh berada ?” adalah suatu permasalahan ‘aqidah yang penting yang mesti diketahui secara benar oleh setiap kaum muslimin. Sebagaimana permasalahan ini telah diketa-hui oleh para Shahabat y , bahkan oleh budak-budak mereka. Diriwayat-kan dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulamy t , yakni ketika dia hen-dak memerdekakan budak perempuannya yang dia tampar [1] , dia berta-nya kepada Rosululloh r : “Wahai Rosululloh, apakah aku mesti memer-dekakannya ?” Maka Rosululloh r menyuruhnya menghadirkan budak-nya, kemudian ditanya : أَيْنَ اللَّهُ ? ( “di manakah Alloh ?” ).

Budak perempuan tersebut menjawab : فِي السَّمَاءِ “di langit.” Yakni di atas langit. Lalu Rosululloh r bertanya lagi : مَنْ أَنَا “Siapakah aku ?”

Budak tersebut menjawab : أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ “engkau adalah Rosululloh.”

Setelah Rosululloh r mendengar jawaban-jawaban budak tersebut, be-liau bersabda : أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ “merdekakan dia, karena dia adalah seorang

wanita yang beriman !” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Nasai )

Dari kejadian tersebut, kita dapat tarik kesimpulan bahwa di antara krite-ria orang yang beriman adalah mengetahui di manakah Alloh berada.

Al-Qur’an sebenarnya telah berulang-ulang menjelaskan di mana-kah Alloh berada. Di antara ayat-ayat yang menjelaskan keberadaan Alloh Y adalah :

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Tuhanmu adalah Alloh Yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.”

( Qs. Al-A’rof : 54 dan Qs. Yunus : 3 )

Dalam ayat yang lain disebutkan :

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Alloh Yang telah mengangkat langit tanpa adanya pasak yang kalian li-hat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” ( Qs. Ar-Ro’du : 2 )

Dalam ayat lainnya disebutkan :

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Dzat Yang Maha Pengasih bersemayam di atas ‘Arsy.” ( Qs. Thoha : 5 )

Dalam ayat yang lain :

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ

“Yang telah menciptakan langit dan bumi dan apa saja yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy ada-lah Ar-Rohman ( Yang Maha Penyayang ).” ( Qs. Al-Furqon : 59 )

Dalam ayat yang lain :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Alloh Yang telah menciptakan langit dan bumi dan apa saja yang ada di antaranya dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.”

( Qs. As-Sajdah : 4 )

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semakna dengannya yang mene-gaskan bahwa Alloh bersemayam di atas ‘Arsy, yaitu di atas singgasana-Nya yang ada di atas langit yang ketujuh.

Tentang makna ayat-ayat tersebut, berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang terkenal Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim : “Adapun firman Alloh ta’ala :{ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ } , manusia memiliki sangat banyak panda-pat dalam hal ini, dan di sini bukan tempat untuk menguraikannya secara panjang lebar. Sesungguhnya jalan yang mesti dilalui di sini hanyalah madzhabnya para Salaf yang sholih, yaitu : Malik, Al-Auza’i, Ats-Tsauri, Al-Laits bin Sa’d, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rohawaih dan lain-lainnya dari kalangan imam-imam kaum muslimin yang terdahu lu maupun yang kemudian, yakni biarkanlah dia sebagaimana dia datang tanpa takyif, tanpa tasybih dan tanpa ta’thil [2] .”

Mengatakan bahwa Alloh berada di atas ‘Arsy tidak berarti menga takan bahwa Alloh membutuhkan tempat. Sesungguhnya Alloh U tidak membutuhkan tempat dan ruang. Keberadaan Alloh di atas ‘Arsy bermak-na Alloh berada tinggi di atas ‘Arsy-Nya tanpa perlu bersentuhan dengan ‘Arsy-Nya sebagaimana penafsiran dari Ibnu ‘Abbas t , Abul-’Aliyah dan para ‘ulama Salaf yang lainnya. Keberadaan Alloh di atas ‘Arsy me-nunjukkan bahwa Alloh berada di atas seluruh makhluk-Nya, karena Arsy adalah makhluk Alloh yang terbesar dan tertinggi.

Banyak pula hadits-hadits yang shohih yang menunjukkan bahwa Alloh I berada tinggi di atas ‘Arsy-Nya. Bahkan ketika kita sujud, kita membaca : سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى “Maha Suci Alloh Yang Paling Tinggi”, menun-jukkan bahwa kita mengakui bahwa Alloh berada di tempat yang paling tinggi di atas seluruh makhluk-Nya.

Kesalahan dalam memahami perkara ini menjadikan seseorang ter jerumus kepada pengingkaran tentang adanya Alloh tanpa disadarinya. Sebagaimana golongan Mu’tazilah, Maturidiyyah dan kebanyakan Ahli Kalam mengatakan bahwa : “Alloh tidak berada di atas, tidak di bawah, tidak di depan, tidak di belakang, tidak di sebelah kanan, tidak di sebelah kiri, tidak di dalam alam dan tidak pula di luar alam.” Kalimat ini mereka lontarkan untuk membantah pemahaman para Salaf yang menyatakan bahwa Alloh bersemayam di atas ‘Arsy-Nya. Tetapi mereka tidak sadar bahwa “dzat” yang memiliki sifat tidak di atas, tidak di bawah, tidak di depan, tidak di belakang, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak di dalam alam dan tidak di luar alam hanyalah “sesuatu yang tidak ada“. Orang paling bodoh sekali pun ketika ditanya tentang “dzat” yang memiliki sifat-sifat tersebut pasti akan menjawab : “sesuatu yang tidak ada“. Sehingga meya kini hal tersebut sebagai sifat bagi Alloh berarti sama dengan mengang-gap Alloh itu tidak ada.

Golongan yang lainnya menyimpang dengan berlebihan dalam menetapkan keberadaan Alloh, sampai mereka mengatakan bahwa Alloh bersemayam di atas ‘Arsy seperti seorang raja yang duduk di atas singga-sananya. Ini adalah kesalahan fatal karena menyamakan Alloh I dengan makhluk-Nya.

Golongan yang paling parah kesesatannya adalah golongan Pan-theisme atau penganut faham Wihdatul-Wujud yang dicetuskan oleh Ibnu ‘Arobi Ash-Shufi. Dia beranggapan bahwa tidak ada wujud yang hakiki di alam ini kecuali hanya wujud Alloh semata. Sehingga menurut mereka Alloh adalah semua yang ada ini. Atau yang kemudian dilontarkan de-ngan kalimat : “Alloh ada di mana-mana“. Maka faham Wihdatul-Wu- jud ini tidak menyalahkan penyembahan kepada berhala, karena menurut mereka Alloh pun ada di dalam berhala. Yang disalahkan oleh mereka adalah membatasi yang disembah hanya pada obyek-obyek tertentu. Sean dainya mereka menyembah semua yang ada, maka mereka baru dapat di-katakan benar. Sehingga faham ini lebih tepat diartikan dengan faham pe-nyembah segala sesuatu. Faham yang lebih kafir daripada Yahudi dan Nashrani.

TUHAN TERANG VS TUHAN GELAP

RACUN FILSAFAT DUALISME - PERSIA


Masyarakat Persia Purba telah melakukan pemujaan kepada berbagai kekuatan alam, seperti matahari, api, air, bumi, udara dan segala sesuatu yang bisa mendatangkan manfa’at, kemudian diyakini sebagai dewa-dewa kebaik-an. Selain itu mereka pun memuja kepada gempa, taufan, dan segala hal yang mendatangkan mudhorot, kemudian diyakini sebagai dewa-dewa kejahatan. Dewa-dewa kebaikan mereka lambangkan dengan terang atau cahaya, ada-pun dewa-dewa kejahatan mereka lambangkan dengan kegelapan.

Selain itu muncul pula mithos berkenaan dengan kisah Qobil dan Ha-bil yang dihembuskan Iblis, yaitu persembahan qurban yang dilakukan Habil diterima dengan bukti qurbannya dimakan api karena Habil menyembah api. Karena termakan kebohongan Iblis tersebut, muncullah penyembahan kepada api dan matahari yang dianggap sebagai lambang dari tuhan terang.

Kemudian muncul Zarathustra atau Zoroaster sekitar 500 tahun sebe-lum masehi yang memperkenalkan agama Majusi atau Zoroaster. Agama ini menetapkan adanya dua tuhan, yaitu tuhan kebaikan atau tuhan terang yang mereka sebut Ahura Mazda atau Ormuzd dan tuhan kejahatan atau tuhan ge-lap yang mereka sebut Ahriman. Kedua tuhan ini saling bermusuhan dan ber-tempur untuk saling mengalahkan. Dalam pertempuran ini Ahura Mazda di-bantu oleh dewa-dewa lainnya yang disebut Amesha Spenta. Ajaran Zarathus-tra ini diteruskan oleh Mazdak sehingga dikenal pula sebagai ajaran Mazdaki yah. Dalam ajaran Mazdakiyyah dilegalkan adanya seks bebas asalkan si wani ta yang menghendakinya.

Di Tiongkok muncul Chang Ling yang juga menyebarkan ajaran dua-lisme ini. Ia menamai tuhan terang dengan Tao, sehingga ajarannya dikenal dengan nama Taoisme. Kemudian K’ou C’ien Chih meleburkan agama Zoroas-ter ke dalam agama Tao, dan ia menggelari dirinya sebagai Tienshih atau utu-san langit.

Muncul pula Mani yang juga mengembangkan ajaran dualisme atau tsanawiyyah ini. Ajarannya kemudian dikenal sebagai Manawiyyah.

Ajaran dualisme atau tsanawiyyah ini diadobsi pula oleh beberapa ali-ran dan golongan sesat dalam umat Islam dalam versi yang lain. Di antara- nya adalah golongan Qodariyyah [1] dengan beragam sekte dan pengembangan nya. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْقَدَرِيَّةُ مَجُوْسُ هَذِهِ الأُمَّةِ

“Qodariyyah adalah Majusi-nya umat ini.” [ HHR. Abu Dawud dan Ahmad ]

Hal ini karena golongan Qodariyyah meyakini bahwa amalan hamba adalah ciptaannya sendiri. Sehingga di alam ini terdapat dua pencipta, yaitu Alloh se-bagai Pencipta hamba, dan setiap hamba adalah pencipta perbuatannya sendi ri. Inilah pemahaman dualisme atau tsanawiyyah sebagaimana yang dianut o-leh Majusi, hanya saja disajikan dalam versi yang lain.

Golongan Mu’tazilah [2] menganut pemahaman ini dan menamai prin-sip ini dengan Al-‘Adl ( keadilan ) yang merupakan salah satu prinsip utama di antara lima prinsip utama ( ushulul-khomsah ) golongan ini. Keadilan me-nurut golongan Mu’tazilah yaitu dengan menolak adanya taqdir dan menyata kan bahwa Alloh tidak menciptakan kejelekan. Bahkan Alloh hanya berbuat yang baik dan terbaik bagi hamba.

Pemahaman ini dianut pula oleh golongan Hisyamiyyah, pengikut Hi-syam bin ‘Amr Al-Futhi, golongan Jubaiyyah, golongan Ahmariyyah dan bebe-rapa aliran sesat yang lainnya.

Di lain sisi, muncul golongan Kaisaniyyah, pengikut Kaisan Maula ‘Ali bin Abi Tholib yang bersikap tawaqquf [3] dengan mengatakan : “Kami tidak ta-hu apakah perbuatan-perbuatan ini dari Alloh atau dari hamba. Dan kami ju-ga tidak tahu apakah manusia akan dibalasi setelah mati atau tidak.” Inilah go longan tsanawiyyah banci, karena sikap tawaqquf dalam perkara ini sama sa-ja dengan menyatakan secara tidak langsung bahwa Alloh bukan pencipta per buatan hamba.

Sementara itu Muhammad bin An-Nu’man Ar-Rofiqi yang dikenal de-ngan gelar Syetan Thoq menyatakan bahwa Alloh tidak pernah menciptakan syetan, sama dengan sebagian kaum Zoroaster yang menyatakan bahwa Tu- han terang tidak menciptakan syetan atau tuhan gelap. Golongan ini dikenal dengan nama Syaithoniyyah.

Muncul pula golongan Ma’mariyyah yang menganut pemahaman Na-turalisme. Golongan ini menyatakan bahwa Alloh tidak menciptakan warna, rasa, bau, hidup dan mati. Semua itu –menurut mereka- adalah perbuatan tu-buh atau jasad dengan tabiatnya sendiri. Bahkan mereka mengingkari keazali an [4] Alloh ‘azza wa jalla.

Demikianlah racun tsanawiyyah yang mencemari pemikiran beberapa kalangan kaum muslimin sehingga terperosok ke dalam kubangan kesesatan. Kebodohan akan hakekat Kauniyyah Qodariyyah [5] dan hakekat Syar’iyyah Dii niyyah [6] menyebabkan mereka memandang bahwa seandainya kejahatan ada-lah ciptaan Alloh maka Alloh menjadi tidak sempurna dan tidak adil. Dari pe-mahaman yang sempit ini, mereka merangkak menuju pemahaman sesat beri kutnya, yaitu menyatakan bahwa seandainya perbuatan hamba adalah cipta-an Alloh kemudian hamba tersebut Alloh masukkan sebagiannya ke dalam sur ga dan sebagian lainnya ke dalam neraka, tentu hal ini tidak adil. Supaya adil – versi mereka - maka hamba itulah yang menciptakan perbuatannya sendiri, terlepas dari taqdir dan ketetapan Alloh.

Supaya kita terlepas dari kungkungan pemahaman sesat dualisme, ki-ta mesti membedakan antara mana ketetapan Kauniyyah Qodariyyah dan ma-na ketetapan Syar’iyyah Diiniyyah. Keberadaan kebaikan dan kejahatan me-mang ketetapan dan ciptaan Alloh, namun yang bersifat Kauniyyah Qodariy-yah. Sedangkan secara Syar’iyyah Diiniyyah Alloh tidak menghendaki hamba-Nya kecuali kebaikan.

Hal serupa berlaku pula di hukum yang ada pada manusia. Seperti da lam dunia pendidikan, secara hukum dasar kependidikan keberadaan nilai je- lek dan ketidaklulusan adalah sesuatu yang dikehendaki adanya, namun seca-ra hukum moral kependidikan tidak ada seorang pendidik pun yang menghen daki siswanya mendapatkan nilai jelek atau tidak lulus. Bukankah demikian ? Apakah kalau kemudian ada siswa yang mendapat nilai jelek atau terpaksa di-nyatakan tidak lulus berarti para pendidik telah berlaku tidak adil ?!! Atau apakah bila ada siswa yang mendapat nilai baik atau dinyatakan lulus berarti siswa itu telah berusaha sendiri tanpa bimbingan dan peran para pendidik ?!!

Demikian pula ketika Alloh Ta’ala mengadakan kebaikan dan keburu-kan, tidak berarti Alloh menghendaki hamba-hamba-Nya memilih keburukan karena keberadaan keburukan hanya dikehendaki secara kauniyyah qodariy-yah, sedangkan secara syar’iyyah diiniyyah Alloh hanya menghendaki hamba-hamba-Nya memilih kebaikan.

Sekalipun kebaikan dan keburukan semuanya ciptaan Alloh, namun kita tidak diperkenankan menyandarkan keburukan kepada Alloh, dan hanya kebaikan yang wajib disandarkan kepada Alloh. Hal ini selain sebagai adab atau tata karma, juga terdapat banyak hikmah di dalamnya, di antaranya : agar pelaku kebaikan tidak sombong dan lupa diri dengan amalannya dan te-rus terpacu untuk meningkatkan amal kebaikannya, dan agar pelaku keburu-kan tidak merasa aman dari ancaman siksa Alloh akibat kemaksiatannya dan segera berupaya untuk bertaubat memohon ampun kepada Alloh.

Bila seseorang telah memahami perbedaan mendasar tentang perkara kauniyyah qodariyyah dengan syar’iyyah diiniyyah maka tidak mungkin ia bi-sa terjebak dalam perangkap faham sesat tsanawiyyah.

وَ قَالَ اللهُ لاَ تَتَّخِذُوْا إِلـهَيْنِ اثْنَيْنِ , إِنَّمَا هُوَ إِلـهٌ وَاحِدٌ , فَإِيَّايَ وَ ارْهَبُوْنَ

“Alloh berfirman : “ Janganlah kamu mengambil dua ilah ( sesembahan ), ka-rena Dia adalah ilah yang Esa, maka hanya kepada-Ku saja kalian takut !”

[ An-Nahl : 51 ]

TOLERANSI BERAGAMA

Agama Islam bukanlah agama yang disebarkan dengan kekerasan, karena Alloh ta’ala melarang kaum muslimin dari memaksa orang untuk masuk agama Islam, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan dalam masuk ke dalam agama Islam, karena telah jelas antara petunjuk dari kesesatan. Maka barangsiapa yang ingkar kepada thoghut dan beriman kepada Alloh sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kuat yang tidak akan pernah putus. Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ( Qs. Al-Baqoroh : 256 )

Dalam ayat yang lain Alloh ta’ala berfirman kepada Rosululloh saw :

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ

“Berilah peringatan, karena engkau ( Muhammad ) hanyalah seorang pemberi peringatan, engkau bukan orang yang memaksa mereka.” ( Qs. Al-Ghosyiyah : 21 -22 )

Rosululloh saw saja tidak boleh memaksa orang lain untuk memeluk agama Islam, apalagi selain beliau. Ini merupakan bantahan yang kuat bagi kaum orientalis yang menuduh Islam disebarkan dengan kekerasan atau Islam menyukai kekerasan. Andai pun terjadi kekerasan yang dilakukan oleh sebagian kecil umat Islam, maka tindakan mereka tidak mewakili seluruh umat Islam, sekalipun mereka dalam aksinya membawa nama Islam. Hal ini ditegaskan oleh Nabi saw dalam sabdanya mengomentari golongan radikalis ekstrim yang bakal muncul di umat ini :

يَخْرُجُ فِى هَذِهِ الأُمَّةِ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلاَتَكُمْ مَعَ صَلاَتِهِمْ ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حُلُوقَهُمْ - أَوْ حَنَاجِرَهُمْ - يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ

“Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang sholat kalian tidak ada apa-apanya dibanding sholat mereka, mereka membaca Al-Qur’an namun bacaannya tidak melampaui kerongkongannya, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana keluarnya anak panah setelah menembus hewan buruannya.” ( HR. Al-Bukhori dan Muslim )

Sehingga meskipun sholat dan ibadah mereka begitu tekun mengalahkan umumnya kaum muslimin, tetapi tindakan mereka yang radikal dan ekstrim menjadikan mereka divonis sebagai keluar dari Islam, yakni perbua-tan mereka sama sekali tindak mencerminkan seorang muslim yang benar keislamannya.

Banyak kaum orientalis yang menuduh Islam mengajarkan kekerasan, bahkan ada di antara mereka yang mencoba mempengaruhi opini dunia dengan membuat film FITNA yang memang berisi fitnah besar ter-hadap kaum muslimin. Di dalamnya mereka menukil ayat-ayat perang disertai tayangan terorisme yang dilakukan kaum ekstrim radikal yang agama Islam sendiri tidak mengakui tindakan tersebut. Di antara ayat yang sering dijadikan bukti oleh kaum orientalis untuk menuduh Islam sebagai agama kekerasan adalah firman Alloh ta’ala :

فَإِذَا انْسَلَخَ الأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan bila telah di luar bulan-bulan haram, perangilah kaum musyrikin di mana pun kalian jumpai, tangkap mereka, kepung mereka, dan duduki tempat-tempat pengintaian untuk mengintai mereka ! Bila mereka bertaubat, menegakkan sholat dan menunaikan zakat maka lepaskan mereka, sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( Qs. At-Taubah : 5 )

Ayat di atas adalah ayat perang yaitu diizinkan berperang sebagaimana tersebut dalam ayat di atas selama tidak dalam bulan-bulan haram. Ayat di atas berhubungan erat dengan dalil-dalil yang melarang berperang dan melakukan aktivitas apa pun yang terkait dengan perang, seperti mengepung, mengintai dan menangkap musuh di bulan-bulan haram yakni bulan-bulan di mana bangsa arab menunaikan ibadah haji. Sehingga ayat ini berisi perintah setelah adanya larangan, yang di dalam kaidah disebutkan bahwa : Perintah yang datang setelah larangan menunjukkan kembalinya ia ke hukum asalnya. Dan hukum asal berperang disebutkan dalam firman Alloh ta’ala :

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

“Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama menjadi milik Alloh. Bila mereka berhenti, maka tidak ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” ( Qs. Al-Baqoroh : 193 )

Ayat di atas menunjukkan bahwa asal dari disyari’atkannya perang dalam Islam adalah untuk menghilangkan fitnah. Al-Imam As-Suyuthi rohima-hulloh menafsirkan : “hingga tidak mungkin akan terjadi lagi penyiksaan terhadap orang-orang yang beriman untuk kedua kalinya.” [1]

Disebutkan dalam ayat yang lainnya :

وَقَاتِلُواْ المشركين كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَآفَّةً

“Perangilah orang-orang musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya.” ( Qs. At-Taubah : 36 )

Yang demikian karena banyaknya musuh-musuh Islam dan orang-orang yang dengki dengan kaum muslimin yang selalu merongrong kaum muslimin dan merintangi da’wah secara damai. Seandainya suatu kaum yang kafir tidak memusuhi Islam, bahkan menjalin hubungan baik dengan kaum muslimin, maka tidaklah mereka diperangi oleh kaum muslimin. Rosululloh saw memiliki beberapa sekutu dari kalangan kabilah-kabilah yang belum muslim atau masih tetap dalam kekafirannya. Tetapi kabilah dan suku tersebut tidak memusuhi Islam, menjalin kerja sama yang baik dengan kaum muslimin serta tidak menghalangi penyebaran da’wah Islam di mana pun para da’i berda’wah.

Toleransi atau tasamuh yaitu berlapang dada melihat orang lain memiliki keyakinan yang berbeda tanpa memusuhi mereka. Sebagaimana firman Alloh ta’ala :

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Hanya bagi kalian agama kalian dan hanya bagiku agamaku.” ( Qs. Al-Kafirun : 6 )

Dalam ayat yang lain disebutkan :

لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ

“Hanya bagi kami amal-amal kami dan hanya bagi kalian amal-amal kalian.” ( Qs. Al-Qoshosh : 55 dan Asy-Syuro : 15 )

Inilah makna toleransi yang benar.

Ada sebagian kalangan yang salah dalam memahami makna toleransi, yakni dengan ikut-ikutan mengucapkan selamat hari raya kepada agama lain, bahkan ada yang sampai menghadiri perayaan hari agama mereka. Perbuatan ini menyelisihi konsep toleransi yang sebenarnya. Bahkan telah mengarah kepada faham pluralisme, yaitu menganggap sama semua agama. Faham ini berdampak kepada lemahnya aqidah kaum muslimin dan membuka peluang para missionaris dalam menebarkan racun ber bisa mereka untuk memurtadkan kaum muslimin. Karena bila semua agama sama, lalu apa bedanya Islam dengan Kristen, Hindu atau Budha ? Lalu dengan iming-iming materi duniawi mereka mengupayakan agar kaum muslimin yang telah dilemahkan aqidahnya ini menjadi menganggap baik tindakan pindah agama. Akhirnya dengan mudah mereka dimurtadkan secara pelan-pelan.

DENDAM IBLIS TERHADAP MANUSIA

Setelah pembangkangan yang dilakukan oleh Iblis terhadap perintah Alloh ta’ala untuk sujud kepada Adam ‘alaihis salam, Iblis pun divonis kafir dan diusir dari hadapan-Nya. Alloh ta’ala berfirman :
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ , قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِين
“Alloh berfirman ( kepada Iblis ) : “Apa yang menghalangimu dari bersujud ketika Aku telah memerintahkanmu ?” Iblis menjawab : “Aku lebih baik dari nya, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari ta-nah.” Alloh berfirman : “Turunlah darinya ! Tidak layak kamu berlaku som-bong di dalamnya, maka keluarlah sesungguhnya kamu termasuk dalam golo ngan orang-orang yang rendah !” ( Qs. Al-A’rof : 12 – 13 )
Lihatlah bagaimana sesatnya Iblis ketika melawan perintah Alloh dengan qi-yas ( analogi ) ! Meskipun qiyas diperbolehkan, bahkan merupakan salah sa-tu dasar hukum, namun qiyas akan batal bila tidak terpenuhi semua persyara tannya, apalagi bila bertentangan dengan nash dari Alloh ta’ala. Qiyas yang demikian adalah dosa besar, sebagaimana kata Imam Abu Hanifah rohimahul- loh : “Kencing di masjid lebih baik dari pada sebagian qiyas.”
Berkata Imam Al-Hafizh Al-Khothib Al-Baghdadi menjelaskan perkataan Imam Abu Hanifah di atas : “Sesungguhnya Abu Hanifah telah berkata de-ngan suatu perkataan yang mencela qiyas, yaitu qiyas yang menyelisihi nash. Wallohu a’lam.”
Demikian pula qiyas yang dilakukan Iblis adalah qiyas yang batil karena me-nyelisihi, bahkan menentang perintah Alloh ta’ala.
Berkata Al-Hasan Al-Bashri : “Iblis telah melakukan qiyas, dan dia itulah orang pertama yang melakukan qiyas.”
Berkata Muhammad bin Sirin : “Orang pertama yang melakukan qiyas ada-lah Iblis. Matahari dan bulan pun disembah juga karena qiyas.”
Dalam ayat yang lain disebutkan :
قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّين
“Alloh berfirman kepada Iblis : “Keluarlah darinya, sesungguhnya kamu itu terkutuk, kamu pasti tertimpa laknat sampai hari qiyamat.”
( Qs. Al-Hijr : 34 – 35 )
Ketika diusir, Iblis meminta tangguh, sebagaimana tersebut dalam Qur’an :
قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ , قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ , قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ , قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لأَمْلأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِين
“Iblis berkata : “Berilah aku tangguh !” Alloh menjawab : “Sesungguhnya ka mu termasuk orang yang diberi tangguh.” Iblis berkata : “Karena Engkau te-lah memvonis aku sesat, pasti aku akan halangi mereka ( yakni manusia ) da- ri jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari depan, dari belakang, dari sebelah kanan dan dari sebelah kirinya, lalu Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka orang-orang yang bersyukur.” Alloh berfirman : “Keluarlah darinya dalam keadaan terhina dan terusir ! Ba-rangsiapa yang mengikutimu di antara mereka, pasti Aku penuhi neraka Ja-hannam dengan kalian semuanya.” ( Qs. Al-A’rof : 14 – 18 )
قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ , قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ , قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِين
“Iblis berkata : “Tuhanku, berilah aku tangguh hingga hari mereka dibangkit kan !” Alloh berfirman : “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh hingga waktu yang telah ditentukan.” Iblis berkata : “Tuhan-ku karena Engkau telah memvonis aku sesat, pasti aku akan menghiasi ( ke-jelakan ) untuk mereka di bumi dan pasti aku akan sesatkan mereka semua-nya, kecuali hamba-hamba-Mu di antara mereka yang ikhlas.”
( Qs. Al-Hijr : 36 – 40 )
قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلاَّ قَلِيلاً , قَالَ اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَوْفُورًا وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الأَمْوَالِ وَالأَوْلادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُورًا إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلاً
“Iblis berkata : “Apakah Engkau tidak melihat kepada orang ini yang telah Engkau muliakan di atasku ( yaitu Adam ), seandainya Engkau tangguhkan Aku hingga hari qiyamat, pasti aku akan sesatkan keturunannya kecuali sedi-kit.” Alloh berfirman : “Pergilah, barangsiapa yang mengikutimu di antara mereka, maka neraka Jahannam adalah balasan yang cukup bagi kalian ! Ha-sunglah siapa yang kamu sanggup dengan suaramu, kerahkanlah pasukan berkuda dan pasukan jalan kakimu, bersekutulah dengan mereka dalam uru- san harta dan anak, serta berikanlah kepada mereka janji ! Sesungguhnya Syetan tidaklah menjanjikan kepada mereka kecuali sekedar tipuan. Sesung-guhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan atasmu terhadap mereka, dan cukuplah Alloh sebagai penjaga.” ( Qs. Al-Isro’ : 62 – 65 )
Perhatikanlah, bagaimana dendam Iblis kepada Adam dan anak-cucunya !
Berkata Ibnu Qudamah AL-Maqdisi rohimahulloh : “Iblis pernah berkata ke-pada Nabi Nuh ‘alaihis salam : “Waspadalah kamu dari dengki, karena dialah yang menjadikanku seperti ini.”
Beliau berkata : “Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bila ditahan karena ti-dak mampu melampiaskannya ketika itu, ia akan kembali ke dalam batin, ke- mudian tertahan, lalu berubah menjadi dendam. Tandanya adalah selalu membenci orang tersebut, terasa memberatkannya dan tidak suka terhadap-nya. Maka dendam adalah buah dari amarah, sedangkan dengki adalah hasil dari dendam.”
Inilah yang terjadi pada Iblis, yaitu : marah, dendam dan dengki kepada Adam ‘alaihis salam , sehingga dia meminta tempo kepada Alloh agar dipan-jangkan umurnya hingga hari qiyamat, dengan tujuan hendak menyesatkan anak cucu Adam sebanyak-banyaknya Dan Iblis memang di antara makhluk Alloh yang diberi tempo, yaitu tidak akan mati hingga tiba hari qiyamat. Ada pun jin-jin lainnya, tidak termasuk yang diberi tempo ini. Mereka sama seper ti makhluk hidup lainnya yang pasti akan merasakan mati. Hanya saja umur bangsa jin rata-rata ribuan tahun.
Dalam kisah ini ada beberapa hikmah yang bisa kita petik, di antara-nya, yaitu :
1. Iblis termasuk orang yang mengakui bahwa Alloh adalah Tuhannya, namun pengakuannya itu tidak lantas menjadikannya bebas dari vo-nis kafir dan terla’nat. Karena pengakuan demikian harus dibuktikan dengan mematuhi seluruh perintah Alloh dan menjauhi larangannya. Dengan demikian maka Tauhid Rububiyyah atau pengakuan keesaan Tuhan tidak akan ada artinya tanpa Tauhid Uluhiyyah atau beribadah hanya kepada Alloh semata.
2. Syetan, yaitu Iblis dan bala tentaranya akan terus bekerja keras siang maupun malam untuk menyesatkan manusia dengan berbagai jalan.
3. Di antara cara-cara syetan dalam menyesatkan manusia adalah de-ngan menghiasi setiap keburukan, sehingga tampak bagus oleh ma-nusia.
4. Yang bisa selamat dari gangguan syetan adalah orang-orang yang Alloh jaga dengan sifat ikhlas dalam beribadah kepada-Nya.
5. Dosa dan kemaksiatan dapat menjadikan makhluk yang mulia beru-bah menjadi hina dan nista. Sebagaimana Iblis yang semula di tem-pat yang tinggi bersama malaikat, kemudian diusir dengan dihinakan karena pelanggaran, dosa dan maksiatnya.
6. Qiyas adalah sumber hukum yang hanya berlaku ketika tidak didapa-ti adanya dalil dalam suatu permasalahan. Namun qiyas akan batal se cara otomatis ketika suatu permasalahan telah memiliki dalil yang je-las dan shohih.
7. Dendam, amarah dan dengki adalah sifat yang tercela yang wajib un-tuk dijauhi.

P E M U J A A N K E P A D A R O H “ANIMISME”

Permasalahan seputar roh dan keberadaannya setelah kematian banyak disalahfahami oleh mayoritas kaum muslimin. Bahkan kecenderungan pemikiran kebanyakan kaum muslimin tersebut mengarah kepada pemahaman animisme, yaitu kepercayaan bahwa arwah orang yang telah meninggal dunia mampu mem bantu keluarganya atau kerabatnya atau orang-orang lain yang masih hidup di dunia. Kepercayaan berbau animisme ini malah dikemas dalam berbagai ritual yang dinisbatkan kepada agama Islam, padahal keseluruhan ritual tersebut ber-tentangan dengan ajaran tauhid dan syari’at Islam.
Animisme secara bahasa berasal dari kata “anima” yang bermakna roh, sehingga faham animisme bermakna kepercayaan bahwa roh itu mampu membe rikan manfa’at kepada kehidupan manusia. Kepercayaan animisme inilah yang di anut oleh bangsa-bangsa primitif yang ada di berbagai penjuru dunia. Masing-masing suku memiliki sederetan nama arwah leluhur yang dipuja dan dimintaii pertolongan. Demikian pula setiap keluarga memiliki sejumlah nama arwah yang menjadi pelindung keluarganya.
Dalam beberapa kalangan masyarakat animisme, interaksi antara orang yang masih hidup dengan roh-roh orang yang telah mati biasanya dibantu oleh jasa medium perantara yang dikenal dengan nama syaman atau dukun atau pa-ranormal dan sejenisnya. Lewat mereka orang-orang bisa berkomunikasi dengan roh para leluhurnya. Demikian kepercayaan animisme yang ternyata sampai se- karang masih dilakukan dan ditiru oleh banyak orang. Bahkan ada yang dengan sengaja memanggil roh sembarang dengan ritual tertentu yang disebut jelang-kung. Semua itu adalah agama dan ritual animisme.
Ajaran animisme ini masih dianut pula oleh beberapa bangsa yang maju, seperti bangsa Jepang dengan agama Shinto-nya. Bahkan Shinto sendiri berarti “perjalanan roh” karena berasal dari kata “Shen” yang bermakna roh dan “Tao” yang bermakna “jalannya dunia, bumi dan langit”. Dalam agama Shinto penganut nya diwajibkan menyembah kepada roh yang mereka sebut dengan “ kami “, yang terdiri dari arwah para leluhur tiap-tiap suku, arwah para pahlawan dan ar-wah nenek moyang masing-masing keluarga.
Dalam agama Hindu dan Budha pun pemujaan kepada arwah nenek mo yang pun disakralkan, meski dalam bentuk yang lain. Mereka memang tidak se-cara terang-terangan menyembah kepada arwah leluhur, karena pemujaan yang mereka lakukan kepada banyak dewa telah menyedot seluruh peribadatan mere- ka. Namun dalam praktek kesehariannya, mereka pun tidak lepas dari memohon pertolongan dan bantuan kepada arwah para leluhur. Praktek pemujaan kepada roh ini akan semakin jelas bila kita mengamati para pelaku tapa brata atau tapa yoga yang tujuannya adalah untuk melepaskan suksmanya sehingga bisa me-langlang buana berinteraksi dengan kehidupan di alam roh. Atau bisa pula kita jumpai pada ritual mereka yang mengirimkan beberapa sesajen sebagai makan-an bagi arwah leluhurnya pada hari-hari tertentu. Ada pula kebiasaan sebagian mereka yang membakar uang atau replika dari bentuk rumah, mobil dan sejenis-nya dengan niat untuk diberikan kepada roh orang yang meninggal agar bisa di-pakai oleh mereka di alam roh. Bila tidak ada yang mengirimkan barang-barang tersebut, maka di alam roh orang tersebut akan kebingungan tidak punya uang, tidak punya baju, makanan, rumah, mobil dan lain-lain.
Kepercayaan animisme ini masih pula dianut oleh sebagian besar kaum muslimin dengan meyakini bahwa roh sanak keluarga yang baru meninggal ma-sih berada di rumah hingga 7 ( tujuh ). 40 ( empat puluh ) atau 100 ( seratus ) ha-ri. Sehingga mereka perlu menggelar selamatan pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100 dan ke-1000 dalam rangka mengantar rohnya kembali ke alamnya atau de-ngan alasan-alasan sejenis lainnya. Pada saat ini, ritual animisme ini disebut de-ngan istilah “tahlilan” atau “yasinan” karena dimasukkannya pembacaan tahlil dan surat yasin di dalamnya. Yang kita permasalahkan bukan semata bid’ahnya pembacaan tahlil dan surat yasin dalam acara tersebut, namun yang lebih me-ngerikan adalah penyimpangan pelakunya dari ajaran Islam yang tidak mengenal pemujaan roh, kepada ajaran animisme yang kental dengan pemujaan kepada roh. Inilah kesyirikan yang tidak pernah disadari oleh para pelakunya.
Yang menjadi pertanyaan sekarang yaitu : apa pengertian dari roh itu ? Roh bermakna : “ Sesuatu yang denganya ada kehidupan bagi jiwa.”
Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir rohimahulloh : “ Sesungguhnya ruh adalah asal da-ri jiwa dan merupakan unsur penyusunnya, jiwa sendiri tersusun darinya dan dari hubungannya dengan badan, yaitu dengan satu arah saja tidak dari berbagai arah, inilah makna yang bagus ( tentang ruh ).”
Ada pun tentang perincian detail tentang ruh, tidak ada manusia yang mengeta-hui, karena urusan ruh adalah monopoli ilmu Alloh Subhanahu wa Ta’ala, seba-gaimana firman-Nya :
يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ , قُلِ : الرُّوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّيْ وَ مَا أُوْتِيْتُ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً
“ Mereka bertanya kepadamu tentang Ruh, katakanlah : “ Ruh itu termasuk urus-an Tuhan-ku dan aku tidak diberikan ilmunya kecuali sedikit.” [ Qs. Al-Isro’ : 17 ]
Berkata Dr.Muhammad Sulaiman Al-Asyqor : “ Sesungguhnya Alloh telah memo- nopoli tentang ilmunya, tidak memberitahukannya kepada para nabi-Nya.”
Demikian pula perkaranya, ketika ruh dicabut dari badannya oleh Malai-kat Maut, hakekat keberadaannya hanya Alloh ta’ala yang mengetahui. Kita ha-nya dapat mengetahui melalui sejumlah riwayat yang shohih bahwa ruh itu akan dikembalikan ke badannya untuk menjawab sejumlah pertanyaan dari Malaikat Munkar dan Nakir, yaitu dalam kehidupan di alam barzah. Kemudian bagi yang bisa menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir akan mendapatkan nik-mat kubur, sedangkan yang tidak mampu menjawab dengan benar akan meneri-ma siksa kubur.
Bila kita menelusuri seluruh riwayat tentang alam qubur atau alam bar-zah, kita bisa dapati bahwa tidak ada satu pun riwayat yang shohih yang dapat di jadikan pembenar bagi faham animisme. Semua cerita tentang roh-roh orang ma ti yang menengok familinya, membantu orang yang minta tolong kepadanya atau pun yang pada bergentayangan sebagaimana banyak ditayangkan dalam film-film horor dan mistik hanyalah bersumber dari hadits-hadits palsu dan cerita-ceri- ta khurofat dan tahayyul.
Dalam masyarakat yang masih bodoh dengan ajaran tauhid dan ‘aqidah yang lurus, syetan sering mempermainkan mereka dengan menjelma menjadi so sok orang yang telah mati lalu menampakkan dirinya mendatangi keluarga dan para sahabatnya. Sesungguhnya yang datang kepada keluarga dan orang-orang di sekitarnya bukanlah ruh orang yang mati itu, karena ruh sedang mengalami siksa kubur atau nikmat kubur. Yang datang itu tidak lain adalah jin, terutama jin qorin, yaitu jin pendamping orang tersebut semasa hidupnya. Karena setiap ma-nusia pasti didampingi oleh 2 ( dua ) qorin ( pendamping ) yaitu dari bangsa jin yang senantiasa membisikkan kejelekan dan dari bangsa malaikat yang senantia sa mengajak kepada kebaikan. Setelah seseorang meninggal dunia, maka jin qo rinnya pun pergi meninggalkan tubuhnya, dan terkadang sering menampakkan di ri kepada orang-orang dengan rupa dan wujud dari orang mati tersebut. Oleh ka-rena itu Mujahid pernah berkata : “ Syetan selalu menampakkan diri kepadaku dalam rupa Ibnu ‘Abbas ketika aku sedang sholat, maka aku pun teringat ucapan Ibnu ‘Abbas, lalu aku membawa pisau, maka ketika ia menampakkan diri kembali aku tusuk ia dengan pisau hingga ia roboh, dan tidaklah aku melihatnya lagi sete lah itu.” [ AR. Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baghondi ]
Demikian pula sosok yang menampakkan diri ketika seseorang beri’tikaf di makam seorang nabi atau wali atau seorang sholih, sesungguhnya ia adalah syetan, karena mereka yang telah mati tidak mungkin ruhnya bisa keluar mene-mui peziarahnya untuk mengabulkan segala hajat mereka. Sehingga para pemu-ja kuburan ( quburiyyin ) tidaklah bertemu dengan ruh orang yang dikubur, na- mun sebenarnya mereka hanya bertemu dengan syetan yang menjelma.

PEMBANGUNAN KA’BAH

Setelah peristiwa Qurban, Nabi Ibrohim  meninggalkan Isma’il dan ibunya untuk kembali kepada Saroh di Pelestina. Isma’il pun beranjak dewasa lalu belajar bahasa ‘arab dari suku Jurhum dan menikahi wanita dari suku mereka. Sampai akhirnya Hajar ibu Isma’il wafat.
Setelah sekian lama, Nabi Ibrohim kembali mengunjungi Isma’il . Tapi ketika itu Isma’il sedang pergi, sehingga Ibrohim  hanya bertemu de ngan isteri Nabi Isma’il. Lalu Ibrohim  menanyakan perihal Isma’il  kepada isterinya, dia menjawab : “Isma’il pergi mencari nafkah untuk kami.” Kemudian Ibrohim  menanyakan tentang kehidupan dan kondisi mereka dan dijawab oleh isteri Isma’il : “Kami manusia, kami hidup dalam kesempi-tan dan kesulitan.” Istri Isma’il pun mengadukan kondisinya kepada Ibro-him  . Ibrohim berkata : “Bila suamimu pulang, sampaikan salam dariku, dan katakan kepadanya agar dia mengganti gagang pintunya.”
Ketika Isma’il  datang, seakan-akan dia sedang senang karena se-suatu, lalu berkata : “Apakah ada seseorang yang datang kepadamu ?” Isteri-nya menjawab : “Ya. Telah datang kepadaku seorang laki-laki tua yang begi-ni begitu, kemudian dia menanyakan tentangmu, maka aku pun memberita-hukannya kepadanya. Dia bertanya kepadaku tentang kehidupan kita, maka aku beritahukan bahwa kita berada di dalam kepayahan dan kesulitan.” Isma ‘il bertanya : ”Apakah dia menitipkan pesan kepadamu ?” Isterinya menja-wab : “Ya. Dia menyuruhku untuk menyampaikan salamnya kepadamu dan mengatakan kepadamu agar kamu merubah gagang pintumu.” Isma’il berka-ta : “Itu adalah bapakku, dan dia telah menyuruhku untuk menceraikanmu, maka kembalilah kamu kepada keluargamu !” Isma’il pun menceraikannya dan menikah dengan wanita yang lainnya.
Setelah sekian lama Ibrohim meninggalkan mereka, dia kembali me-ngunjungi keluarga Isma’il, namun kembali tidak mendapati Nabi Isma’il. Dia menemui isteri Isma’il yang baru dan menanyakan kepadanya tentang-nya. Maka isteri Isma’il menjawab : “Dia pergi mencari nafkah untuk kami.” Lalu Ibrohim bertanya : “Bagaimana keadaan kalian ?” Dia menanyakan ten-tang penghidupan dan kondisinya, maka isteri Isma’il menjawab : “Kami baik-baik saja dalam keluasan rejeki.” Lalu isteri Nabi Isma’il memuji Alloh ‘azza wa jalla. Ibrohim bertanya : “Apa makanan kalian ?” Isteri Isma’il men-jawab : “Daging.” Ibrohim bertanya : “Apa minuman kalian ?” Isteri Isma’il menjawab : “Air.” Lalu Ibrohim berdo’a : “Ya Alloh berkahilah untuk mere-ka daging dan air.”
- Nabi Muhammad  bersabda : “Ketika itu belum ada biji-bijian. Seandainya ada bi ji-bijian pada mereka, niscaya Ibrohim pun mendo’akan berkahnya untuk mereka.” -
Kemudian Nabi Ibrohim berkata : “Bila suamimu datang, sampaikan salam-ku kepadanya, dan suruh dia untuk mengokohkan gagang pintunya.” Ketika Isma’il datang, dia bertanya : “Apakah ada seseorang yang datang ?” Isteri-nya menjawab : “Ya. Ada seorang tua yang datang kepada kita dalam keada-an yang bagus.” Lalu isterinya memuji Nabi Ibrohim, dan berkata : “Kemu-dian dia bertanya kepadamu tentangmu, maka aku memberitahukannya. Dia juga bertanya kepadaku bagaimana penghidupan kita, maka aku kabarkan bahwa kita baik-baik saja.” Isma’il bertanya : “Apakah dia menitipkan pesan kepadamu ?” Isterinya menjawab : “Ya. Dia mengucapkan salam atasmu dan menyuruhmu supaya mengokohkan gagang pintumu.” Isma’il berkata : “Itu adalah ayahku, dan kamu adalah gagang pintu yang dimaksud, jadi be-liau menyuruhku untuk mempertahankanmu sebagai isteri.”
Inilah kisah yang dituturkan oleh Ibnu ‘Abbas  sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori. Dalam kisah ini dapat dipetik hikmah bahwa semes-tinya seorang isteri mensyukuri kerja keras suaminya dan tidak mengadukan perihal kekurangan rumah tangganya kepada pihak yang lainnya. Isteri yang tidak mampu mensyukuri suami, bahkan membongkar aib suami, bukanlah tipe isteri yang baik, dan ini merupakan salah satu sebab kesulitan ekonomi dalam sebuah rumah tangga. Namun isteri yang sholihah adalah isteri yang mampu menjadi partner atau rekan kerja bagi suami dalam mengelola rumah tangga, mensyukuri usaha keras suami dan menutupi aib rumah tangga dari pihak lain. Tipe isteri yang semacam ini insya Alloh akan mampu mensejahte-rakan rumah tangga dan melancarkan rejeki bagi suaminya.
Setelah sekian lama, Nabi Ibrohim  kembali datang menemui Na-bi Isma’il  dan berkata : “Sesungguhnya Alloh telah memerintahkanku su paya membangun Baitulloh di sana,” sambil memberi isyarat kepada sebuah dataran tanah yang tinggi. Inilah Baitulloh pertama yang dibangun di muka bumi, yaitu Ka’bah, sebagaimana firman Alloh ta’ala :
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَ هُدًى لِّلْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Baitulloh yang pertama dibangun untuk ( tempat ibadah ) manusia, ialah Baitulloh yang di Bakkah ( Mekah ) yang diberkahi dan menja di petunjuk bagi semesta alam.” ( Qs. Ali ‘Imron : 96 )
Kemudian Nabi Ibrohim  bersama dengan Nabi Isma’il  bersama-sa-ma membangun Ka’bah. Nabi Isma’il  yang membawa batu-batuannya lalu Nabi Ibrohim  yang menyusunnya menjadi bangunan. Ketika bangu- nannya telah tinggi, Nabi Ibrohim  meletakkan batu di tanah sebagai tem pat berpijaknya. Batu tempat berpijak Nabi Ibrohim ini kemudian disebut se bagai Maqom Ibrohim, sebagaimana firman Alloh ta’ala :
فِيهِ آيَاتٌ بَيِّـنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا
“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, ( di antaranya ) Maqom Ibrohim barangsiapa memasukinya ( yaitu Baitulloh itu ) menjadi amanlah dia.”
( Qs. Ali ‘Imron : 97 )
Ketika membangun Ka’bah tersebut, Nabi Ibrohim dan Nabi Isma’il ber- do’a, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an :
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Dan ( ingatlah ), ketika Ibrohim meninggikan pondasi Baitulloh bersama Isma’il ( seraya berdoa ) : “Ya Tuhan kami terimalah dari kami ( amalan ka- mi ), sesungguhnya Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan ( jadikanlah ) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”( Qs. Al-Baqoroh : 127 – 128 )
Alloh pun mengabulkan permohonan mereka dengan menunjukkan tata ca-ra manasik haji yang kemudian dijalankan oleh manusia sejak saat itu hingga sekarang. Hanya saja ajaran tauhid Nabi Ibrohim dan Nabi Isma’il kemudian dirusak oleh ‘Amr bin Luhay yang mengimport beraneka berhala dari luar Ja zirah Arab sehingga bercampurlah manasik haji mereka dengan budaya ber-halaisme. Dan budaya berhalaisme ini akhirnya Alloh leyapkan dengan meng utus Nabi Muhammad  . Oleh karena itu rangkaian do’a dari Nabi Ibro-him dan Nabi Isma’il berikutnya adalah :
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ
إِنَّكَ أَنتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ
“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rosul dari kalangan mere-ka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajar- kan kepada mereka Al Kitab ( Al Qur’an ) dan Al-Hikmah ( As-Sunnah ) ser ta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Ma-ha Bijaksana.” ( Qs. Al-Baqoroh : 129 )
Demikianlah kisah pembangunan Ka’bah atau Baitulloh yang kemudian dise but dengan Masjid Al-Haram ( Masjid Yang Mulia ). Dibangun bukan untuk disembah, namun sebagai pemersatu arah atau qiblat umat manusia.
وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَ طَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ
وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
“Dan ( ingatlah ), ketika Kami memberikan tempat untuk Ibrohim di tem- pat Baitulloh : “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thowaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.”
( Qs. Al-Hajj : 26 )

PEMBANGUNAN MASJIDIL-AQSHO

Ketika Nabi Ibrohim belum dikaruniai anak, Saroh mengijinkan Ib-rohim  menikahi pembantunya, Hajar. Dari pernikahan dengan Hajar, la-hirlah Isma’il. Saroh pun cemburu, sehingga Ibrohim  membawa Hajar beserta puteranya - yaitu Isma’il - pergi ke padang tandus yang tak berpenghu ni, yakni Mekkah. Ketika Isma’il sudah mulai beranjak besar, Ibrohim diuji kecintaannya dengan diberi perintah untuk menyembelih putera satu-satu-nya, yaitu Isma’il. Nabi Ibrohim  dan Isma’il  patuh melaksanakan pe-rintah Alloh tersebut, sehingga Alloh menggantinya dengan seekor kambing Gibas yang besar.
Karena telah terbukti kesabaran, syukur dan cinta Nabi Ibrohim  kepada Alloh ta’ala, maka Alloh pun memberikan tambahan karunia kepada Ibrohim yang berupa putera dari Saroh, sebagaimana firman Alloh ta’ala :
وَ بَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ
“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan ( kelahiran ) Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.” ( Qs. Ash-Shoffat : 112 )
Inilah sebabnya seorang mu’min harus senantiasa bersyukur kepada Alloh atas segala karunia-Nya, karena syukur akan mendatangkan rahmat yang beri kutnya, sebagaimana firman Alloh ta’ala :
وَ إِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan ( ingatlah juga ) tatkala Tuhanmu memaklumatkan; “Sesungguhnya ji-ka kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah ( ni’mat ) kepadamu, namun jika kamu mengingkari ( ni’mat-Ku ), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” ( Qs. Ibrohim : 7 )
Kronologi kisahnya disebutkan dalam beberapa ayat dalam Al-Qur-’an, yaitu :
وَلَقَدْ جَاءتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُـشْرَى قَالُواْ سَلاَمًا قَالَ سَلاَمٌ فَمَا لَبِثَ أَن جَاء بِعِجْلٍ حَنِيذٍ
“Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami ( yakni para malaikat ) telah datang kepada lbrohim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan : “Salam,” Ibrohim menjawab : “Salam,” maka tidak lama kemudian Ibrohim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.” ( Qs. Hud : 69 )
Dalam ayat ini Nabi Ibrohim  kedatangan tamu para malaikat yang ber-wujud laki-laki. Nabi Ibrohim tidak tahu kalau tamunya adalah para malaikat sehingga ia menyuguhkan makanan untuk menjamunya. Dalam kisah ini ter-dapat pelajaran bahwa menjamu tamu merupakan suatu tradisi yang baik dan diakui oleh syari’at, sebagaimana sabda Rosululloh  :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah ia memu liakan tamunya !”
( HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah )
Kemudian kisah selanjutnya :
فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لاَ تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُواْ لاَ تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ
“Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrohim me-mandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malai- kat itu berkata : “Jangan takut, sesungguhnya kami adalah ( malaikat-malai- kat ) yang diutus kepada kaum Luth.” ( Qs. Hud : 70 )
Yakni, mereka adalah para malaikat yang akan diutus kepada Nabi Luth  berkenaan dengan kesyirikan kaum Luth dan kebiasaan homoseksnya. Sebe- lum menuju ke tempat Nabi Luth  mereka singgah di rumah Nabi Ibro- him  untuk memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrohim. Hal ini me nunjukkan disukainya memberikan kabar gembira dengan segera kepada orang yang beriman lainnya.
Dari kisah ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa Malaikat tidak membutuh-kan makan maupun minum, terbukti dengan hidangan anak sapi panggang yang disuguhkan oleh Nabi Ibrohim tidak disentuh sedikit pun juga.
Melihat perilaku yang aneh dari tamu-tamunya, Ibrohim pun merasa takut kepada mereka.
إِذْ دَخَلُواْ عَلَيْهِ فَقَالُواْ سَلامًا قَالَ إِنَّا مِنكُمْ وَجِلُونَ قَالُواْ لاَ تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ عَلِيمٍ
“Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan : “Salaam”. Berkata Ibrohim : “Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.” Mereka berkata : “Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami akan memberi kabar gembira kepadamu dengan ( kelahiran seorang ) anak laki-laki ( yang akan menjadi ) orang yang alim.” ( Qs. Al-Hijr : 52 - 53 )
Inilah kabar gembira yang dibawa oleh para malaikat yang datang bertamu kepada Nabi Ibrohim. Kabar tersebut membuat Ibrohim heran.
قَالَ أَبَشَّرْتُمُونِي عَلَى أَن مَّسَّنِيَ الْكِبَرُ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ
“Berkata Ibrohim : “Apakah kalian memberi kabar gembira kepadaku pada-hal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah ( terlaksananya ) berita gembira yang kalian kabarkan ini ?” ( Qs. Al-Hijr : 54 )
Saroh pun tak kalah herannya mendengar kabar tersebut.
فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ
“Kemudian isterinya datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata : ” ( Aku adalah ) seorang perempuan tua yang mandul.”
( Qs. Adz-Dzaariyaat : 29 )
قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَاْ عَجُوزٌ وَهَـذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَـذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ
“Isterinya berkata : “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula ? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sa- ngat aneh.” ( Qs. Hud : 72 )
Demikian menurut tabiat manusia, usia selanjut Ibrohim dan Saroh sudah ti dak mungkin lagi memiliki anak. Namun bila Alloh Yang menghendaki, apa yang tidak mungkin ?
قَالُواْ أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ رَحْمَتُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَّجِيدٌ
“Para malaikat itu berkata : “Apakah kalian merasa heran tentang ketetapan Alloh ? ( Itu adalah ) rahmat Alloh dan berkah-Nya, dicurahkan atas kalian, hai ahlulbait ! Sesungguhnya Alloh Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”
( Qs. Hud : 73 )
قَالُواْ بَشَّرْنَاكَ بِالْحَقِّ فَلاَ تَكُن مِّنَ الْقَانِطِينَ
“Mereka menjawab : “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu de-ngan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang putus asa !”
( Qs. Al-Hijr : 55 )
Dalam kisah ini terdapat hikmah : hendaklah setiap orang tidak boleh berpu tus asa dalam mengharapkan rahmat Alloh. Terus berusaha dan berdo’a agar keinginan tercapai ! Sebagaimana Saroh akhirnya dikarunia putera yang sho-leh yaitu Nabi Ishaq  .
Setelah dewasa, Nabi Ibrohim  mengajak Ishaq membangun Bai-tul-Maqdis atau Masjidil-Aqsho di Yerusalem. Jarak pembangunan Masjidil-Aqsho dengan Masjidil-Harom ( Ka’bah ) adalah 40 tahun, sebagaimana diri watkan dari Shahabat Abu Dzar Al-Ghifari  :
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الأَرْضِ أَوَّلَ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ
قَالَ الْمَسْجِدُ الأَقْصَى قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ أَرْبَعُونَ سَنَةً
“Aku bertanya : “Wahai Rosululloh, masjid mana yang pertama kali dibuat di bumi ?” Rosululloh menjawab : “Masjidil-Harom.” Kemudian aku berta-nya : “Lalu yang mana ?” Beliau menjawab : “Masjidil-Aqsho.” Aku berta-nya : “Berapa jarak waktu antara keduanya ?” Beliau menjawab : “40 tahun.”
( HR. Ahmad, Al-Bukhori dan Muslim )
Sehingga Nabi Ibrohim  dan Nabi Ishaq  yang membangun Masjidil-Aqsho atau Baitul-Maqdis. Ada pula yang berpendapat bahwa yang memba-ngun Baitul-Maqdis adalah Nabi Ya’qub  atau Isroil putera Nabi Ishaq. Namun pendapat ini bertentangan dengan hadits yang shohih di atas.
Ada pula yang berpendapat bahwa Nabi Sulaiman  yang memba- ngun Baitul-Maqdis. Yang benar adalah Nabi Sulaiman  putera Nabi Da- wud  bukan yang membangun untuk pertama kali, namun bisa jadi beliau adalah pihak yang melakukan pemugaran dan renovasi Masjidil-Aqsho pada zaman beliau. Wallohu a’lamu bish-Showaab.
[ ‘Abdulloh A. Darwanto ]

PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI

Ketika Alloh ta’ala menciptakan langit, Alloh pun meng hiasi langit dunia dengan bintang-bintang, sebagaimana firman Alloh ta’ala :
وَ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ وَ حِفْظًا , ذَلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ
“Dan Kami telah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang sebagai lentera dan penjagaan, yang demikian adalah ketentuan dari Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” ( Qs. Fushshilat : `12 )
Dalam ayat yang lain Alloh Ta’ala berfirman :
وَ لَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ وَ جَعَلْنَاهَا رُجُوْمًا لِلشَّيَاطِيْنِ
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia dengan lente- ra bintang-bintang dan Kami telah menjadikannya sebagai alat-alat untuk melempar syetan.” ( Qs. Al-Mulk : 5 )
Ayat-ayat ini dan yang semisalnya mengisyaratkan akan luasnya alam raya ciptaan Alloh. Teropong tercanggih yang dimiliki oleh manusia masih belum mampu melampaui berjuta gugusan bintang dan galaxy di langit dunia, padahal selama kita masih menjumpai adanya bintang berarti kita masih berada di kolong langit dunia.
Imam Qotadah, seorang ahli tafsir dari kalangan ulama tabi’in berkata :
خَلَقَ اللهُ هَذِهِ النُّجُوْمَ لِثَلاَثٍ : زِيْنَةً لِلسَّمَاءِ وَ رُجُوْمًا لِلشَّيَاطِيْنِ وَ عَلاَمَاتٍ يُهْتَدَى بِهَا . فَمَنْ تَأَوَّلَ فِيْهَا غَيْرَ ذَلِكَ أَخْطَأَ وَ أَضَاعَ نَصِيْبَهُ وَ كَلَّفَ مَا لاَ عِلْمَ لَهُ بِهِ
“Alloh telah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga perkara, yaitu sebagai hiasan langit, sebagai alat melempar syetan, dan sebagai tanda petunjuk jalan. Barangsiapa yang memalingkan kepada selain itu, ber- arti ia telah keliru dan menyia-nyiakan bagian nasibnya serta membe-bani dirinya pada apa yang ia tidak memiliki ilmu tentangnya.”
Demikianlah, sehingga tidak boleh menjadikan bintang sebagai penen tu nasib, sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli nujum, ahli astro- logi, dan orang-orang yang mempercayai ramalan bintang. Mereka adalah orang-orang yang dungu, karena menyerahkan nasibnya kepa- da bintang yang merupakan benda mati sebagaimana yang kita keta-hui bersama. Bahkan ketololan tersebut semakin bertambah parah keti ka mereka meyakini akan terkabulnya permintaan bila disebutkan keti ka melihat bintang jatuh atau meteor. Padahal bintang jatuh atau me-teor itu sebenarnya adalah bintang yang dilempar oleh malaikat yang sedang mengejar syetan yang ketahuan sedang mencuri berita dari la- ngit. Sehingga meminta kepada bintang jatuh pada hakekatnya adalah meminta kepada syetan yang sedang dikejar oleh bintang atau meteor. Bukankah tolol orang yang melakukan perbuatan itu ?
Setelah Alloh ta’ala menciptakan bumi sebagai pondasi dalam 2 hari dan telah menciptakan langit beserta bintang-bintang di angkasa dalam 2 hari, kemudian Alloh menghamparkan bumi, dengan menge- luarkan air dari bumi sehingga menjadi lautan, danau dan sungai, juga menjadikan gunung, bukit dan lembah. Tanam-tanaman pun mulai tumbuh. Semuanya berjalan dalam waktu 2 hari. Alloh  berfirman :
وَ جَعَلَ فِِيْهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَ بَارَكَ فِيْهَا وَ قَدَّرَ فِيْهَا أَقْوَاتَهَا فِيْ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِيْنَ
“Dan Dia menjadikan di atas bumi gunung-gunung, Dia member- kahinya serta menentukan pula kadar makanan para penghuninya, yang kesemua proses penciptaan bumi berlangsung selama 4 hari, de-mikianlah jawaban bagi orang-orang yang bertanya.”
( Qs. Fushshilat : 10 )
yaitu proses penciptaan bumi secara keseluruhan adalah 4 hari dengan perincian :
2 hari sebelum penciptaan langit dan 2 hari setelah penciptaan langit. Proses penciptaan bumi pasca penciptaan langit digambar kan dalam ayat yang lain :
أَ أَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ ؟ بَنَاهَا . رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا , وَ أَغْطَشَ لَيْلَهَا وَ أَخْرَجَ ضُحَاهَا , وَ الأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا , أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَ مَرْعَاهَا , وَ الْجِبَالَ أَرْسَاهَا , مَتَاعًا لَكُمْ وَ ِلأَنْعَامِكُنمْ
“Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit ? Padahal Dia-lah Yang telah membangun langit. Dia meninggi- kan bangunannya dan menyempurnakannya. Dia pun menjadi- kan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang ben derang. Setelah itu, Dia menghamparkan bumi, Dia keluarkan air dan tumbuh-tumbuhan dan Dia pancangkan gunung-gunung. Semua itu untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu.”
( Qs. An-Nazi’at : 27 – 33 )
Ayat-ayat tersebut memberitakan kepada kita tentang peristiwa penghamparan bumi dan penciptaan segala macam bentuk yang nantinya bakal dibutuhkan oleh para penghuninya.
Inilah proses yang benar. Sedangkan proses yang diceritakan di dalam Bible dalam Kitab Kejadian adalah tidak benar dan terbo- lak-balik, selain itu juga tidak dapat diterima oleh akal sehat. Ba gaimana mungkin ada tanaman, ada malam dan siang, dan seba-gainya sementara matahari dan bintang-bintang belum tercipta ? Inilah di antara contoh penyimpangan dalam Bible yang selain bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits yang shohih, juga tidak dapat diterima oleh akal yang sehat.
Di antara hikmah dari kisah-kisah ini yaitu :
1. Semua ciptaan Alloh  diciptakan dengan suatu tujuan yang jelas, bukan sekedar iseng atau main-main.
2. Bintang-bintang di langit selain sebagai hiasan langit, juga sebagai alat untuk merajam syetan yang sedang men curi berita dari langit.
3. Dibolehkan mengambil petunjuk jalan dengan melihat ke pada posisi rasi-rasi bintang di langit.
4. Betapa Alloh Maha Pengasih, sehingga sebelum menciptakan makhluk yang akan menghuni bumi, terlebih dahulu Dia men- ciptakan segala sesuatu yang pasti akan dibutuhkan oleh peng-huninya kelak.
5. Dalam kisah ini dapat difahami bahwa tumbuhan lebih dahulu tercipta dan menghuni bumi sebelum hewan, jin dan manusia.
6. Dalam menerima kabar isroiliyyat kita perlu hati-hati. Setiap kabar isroiliyyat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits maka kita boleh mengambilnya. Sedangkan yang bertentangan wajib untuk ditolak karena telah pasti kepalsuannya sebagaima na cerita-cerita dalam Bible. Sementara yang tidak bertenta- ngan namun tidak pula dibenarkan oleh Al-Qur’an dan Al-Ha- dits, maka wajib untuk tawaqquf atau bersikap diam, tidak me- ngimani, tetapi juga tidak mengingkari. Karena kadar kemung- kinan benar dan salahnya sama. Dengan demikian kita akan se lamat dari membenarkan kedustaan atau pun mendustakan ke- benaran.
[ ‘Abdulloh A. Darwanto ]

KENAPA NABI MUHAMMAD saw TIDAK BOLEH DILUKIS ?

Banyak orang yang tidak faham akan agama Islam, baik dari kalangan umat Islam itu sendiri atau dari kalangan umat non muslim yang mempertanyakan kenapa Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak boleh dilukis apalagi dibuat patung ? Larangan melukis Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam terkait dengan keharusan menjaga kemurnian ‘aqidah kaum muslimin. Sebagaimana sejarah permulaan timbulnya paganisme atau penyembahan kepada berhala adalah dibuatnya lukisan orang-orang sholih, yaitu Wadd, Suwa’, Yaguts, Ya’uq dan Nasr oleh kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam. Memang pada awal kejadian, lukisan
tersebut hanya sekedar digunakan untuk mengenang kesholihan mereka dan belum disembah. Tetapi setelah generasi ini musnah, muncul generasi berikutnya yang tidak mengerti tentang maksud dari generasi sebelumnya membuat gambar-gambar tersebut, kemudian syetan menggoda mereka agar menyembah gambar-gambar dan patung-patung orang sholih tersebut.
Sebenarnya melukis makhluk hidup, yaitu manusia atau binatang hukumnya berdosa, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam :
كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُورَةٍ صَوَّرَهَا
نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَمَ
“Setiap pelukis ada di dalam neraka, dijadikan setiap lukisannya memiliki jiwa, lalu akan menyiksa pelukisnya di dalam neraka Jahanam.” ( HR. Muslim )
Ibnu ‘Abbas dalam riwayat tersebut menyebutkan : “Bila mesti melakukannya, maka buatlah lukisan pohon atau apa pun yang tidak memiliki nyawa.”
Dalam hadits yang lain disebutkan :
عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ الأَسَدِيِّ قَالَ : قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ أَلاَ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً
إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاً قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ
“Dari Abul Hayyaj Al-Asadi dia berkata : ‘Ali bin Abi Tholih berkata kepadaku : “Maukah aku utus engkau pada apa yang Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah mengutusku ? yaitu jangan kamu biarkan gambar kecuali kamu menghapusnya, dan kuburan yang dikeramatkan kecuali kamu meratakannya.” ( HR. Muslim )
Artinya menggambar apa pun dari manusia atau pun hewan dilarang karena bisa menjadi pemicu kemunculan paganisme baru. Ini adalah kaidah saddudz dzari’ah atau “menutup jalan yang menuju kepada kerusakan”. Melukis Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam selain dilarang karena adanya larangan melukis makhluk bernyawa dari jenis manusia dan binatang, juga dilarang karena bisa membuka pintu paganisme atau berhalaisme baru, padahal Islam adalah agama yang paling anti dengan berhala.



وَكَانَتْ أُمُّ سَلَمَةَ وَأُمُّ حَبِيبَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ يُقَالُ لَهَا مَارِيَةُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَتْ بَعْضُ نِسَائِهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمَّا اشْتَكَى فِيهِ تِلْكَ الصُّورَةَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ثُمَّ صَوَّرُوا فِيهَا فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ أُولَئِكِ إِذَا مَاتَ مِنْهُمْ أَتَتَا أَرْضَ الْحَبَشَةِ فَذَكَرَتَا مِنْ حُسْنِهَا وَتَصَاوِيرَ
“Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, dia berkata : Ketika Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sakit, sebagian isteri beliau menyebut-nyebut sebuah gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah yang disebut dengan Maria. Ummu Salamah dan Ummu Habibah rodhiyallohu ‘anhuma pernah mendatangi negeri Habasyah, mereka menyebutkan tentang kebagusannya dan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka beliau pun mengangkat kepalanya, lalu bersabda : “Itulah orang-orang yang bila ada orang sholih di antara mereka yang mati, mereka membangun masjid di atas kuburannya kemudian membuat gambar-gambarnya. Itulah sejelek-jelek makhluk di sisi Alloh.” ( HR. Ahmad dan Al-Bukhori ) Demikian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mencela kelakuan orang-orang ahli kitab yang mengkultuskan orang-orang sholih mereka dengan membuat gambar-gambarnya agar dikagumi lalu dipuja. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam melarang menyerupai mereka :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mere ka.” ( HSR. Abu Dawud ) .Dalam hadits yang lain, beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُلَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا
“Janganlah kalian menyanjungku berlebihan sebagaimana orang-orang Nashrani menyanjung Putera Maryam, karena aku hanya hamba-Nya dan Rosul utusan-Nya.” ( HR. Ahmad dan Al-Bukhori ) Itulah sebab utama kenapa Umat Islam bersikeras melarang melukis Ro-sululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, yaitu dalam rangka menjaga kemurnian ‘aqidah tauhid.
Masih banyak sebab yang lainnya dari larangan menggambar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya penggambaran diri Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam akan membuka peluang untuk perbuatan penistaan terhadap pribadi beliau. Sebagaimana seseorang yang benci kepada orang lain, namun karena tidak mampu melampiaskan kebenciannya secara langsung, mereka lantas membuat serentetan penista an terhadap gambar atau foto orang yang dia benci. Apakah akan dia ludahi atau dia injak-injak atau dia sobek-sobek atau dia bakar atau dibikin ka rikatur yang bernuansa pelecahan, dan sebagainya.
Dengan tidak dilukisnya gambar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam maka tidak mungkin seseorang yang kafir atau fasiq mampu membuat gambaran wajah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, karena hanya orang-orang yang benar imannya saja yang bisa melihat
beliau :
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا
يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي
“Barangsiapa melihatku di dalam mimpinya, sesungguhnya dia benar-benar melihatku, karena syetan tidak mungkin menyerupai bentukku.” ( Hr. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud Ibnu Majah dan Ahmad )
Dalam salah satu riwayat Al-Bukhori ada tambahan :
وَرُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ
النُّبُوَّةِ
“Dan mimpi seorang mu’min adalah seperempat puluh enam bagian dari kenabian.” Bila demikian keadaannya maka tidak mungkin seorang fasiq apalagi kafir bisa tahu wajah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Andai mereka bermimpi suatu sosok manusia yang mengaku-aku sebagai Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam maka dapat dipastikan bahwa sosok itu adalah syetan. Karena meski tidak mungkin menyerupai bentuk Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, tetapi syetan bisa saja mengaku-aku sebagai Rosululloh. Lalu bagaimana kita mengetahui kalau sosok yang mengaku Rosululloh di dalam mimpi kita adalah benar-benar asli Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ? Caranya adalah dengan dicocokkan dengan hadits-hadits syamail yang shohih, yaitu hadits-hadits yang bertutur tentang ciri-ciri Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ada pun karikatur yang digambar oleh orang-orang kafir dan mu-nafiq adalah kebohongan, karena bagaimana mungkin mereka bisa menggambar wajah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, sedangkan untuk melihatnya saja mereka tidak mungkin bisa ?!!! Maka yakinlah bahwa apa yang mereka lukis dan apa yang mereka bikin karikaturnya pasti bukan
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam